Monday, 30 June 2014

Seni dan Kreativitas

Hm... Pemilu tahun ini banyak menuai kritikan yang tak layak untuk dibaca. Baca-baca sebuah berita tentang komentar-komentar para pendukung capres, membuatku tergerak untuk kembali menulis. Salah satu berita yang baru saja berhembus adalah tentang sikap seorang budayawan, mengkritik pendukung salah satu capres. Aku jadi berfikir dan bertanya-tanya, apa sebenarnya pengertian"seni dan kreatifitas" itu? Yah, setiap orang mempunyai pemikirannya masing-masing. Dan aku sering takjub dengan perbedaan pemikiran seperti ini. Seharusnya perbedaan pemikiran ini harus kita jadikan sebuah kekayaan lain dari Indonesia untuk membuat bangsa ini lebih baik lagi.

Sedikit melenceng tentang judul blog ini ya, pengen bahas tentang perbedaan pola pikir manusia. Ketika menjalani sebuah training untuk menjadi fasilitator, aku terkagum kagum dan sempat terkaget-kaget dengan pemikiran-pemikiran teman-teman fasilitator yang membahas tentang sebuah topik. Ternyata perbedaan pola pikir itu memang ada dan yaaah... Fantastis aja berasanya... Di saat kita memikirkan sebuah ide, dan teman yang lain mengungkapkan idenya yang lain, dan itu memang berbeda sama sekali, its amazing!!! *bagaimana menggambarkan ke "amazing"anku ini dalam kata-kata ya? hoho..

Oke, balik lagi ke topik tentang seni dan kreativitas... 

Dari berbagai pengertian seni, aku lebih tertarik untuk mengambil pengertian seni dari pendapat Ki Hajar Dewantara, yakni : "Seni adalah perbuatan manusia yang timbul dari hidupnya, perasaan dan bersifat indah sehingga dapat menggetarkan jiwa perasaan manusia"

Ya, Seni itu indah... Nah apalagi itu indah? apa itu sebuah keindahan? Yaaah... baiklah, keindahan itu adalah sesuatu yang enak untuk dinikmati oleh pancaindra. (Mau ngeshare kebalikannya malah ga nemu artikel yang bagus.. hehe :p)

Kreativitas... Apalagi itu kreativitas? hm.. banyak juga pengertian kata yang satu ini. Tapi semua pendapat kurang lebih sama. Aku akan kutip sebuah pernyataan dari Munandar yang menurutku singkat padat tepat :
"Kreativitas adalah kemampuan untuk mengkombinasikan, memecahkan atau menjawab masalah, dan cerminan kemampuan operasional anak kreatif".

Tapi.. Bagaimana dengan seni dan kreativitas yang kadang menurutku "di luar jalur"??? Berbuat salah kadang dibilang "seninya hidup"... Melakukan sesuatu yang "nyeleneh" kadang dibilang "kreatif"... 

Apa begitu sesungguhnya pengertian seni dan kreativitas itu? 


Seni sebagai kesatuan integral terdiri dari empat komponen esensial, yaitu [1] karya seni (wujud, benda, visualisasi), [2]  kerja cipta seni (proses penciptaan, teknis), [3] cipta seni  (pandangan, konsep, gagasan, wawasan), [4] dasar dan tujuan seni (estetis, logis, etis, manfaat, ibadah). Keempat komponen tersebut berkesesuaian dengan katagori-katagori integralis seperti materi, energi, informasi, dan nilai-nilai. Dengan demikian pada hakekatnya seni adalah dialog intersubjeyektif dan konsubyektif yang mewujud dalam keempat komponen seni. Menurut wawasan Islam, intersubyektif dapat bermaknahablumminallah dan konsubyektif bermakna habluminannaas yang mencerminkan adanya hubungan vertikal dan hubungan horizontal.

Hm... agak sulit untuk menjelaskan pemikiranku. Aku kurang menyukai hal-hal yang di luar batas dan kemudian di judge mempunyai nilai seni yang tinggi. Melakukan hal yang baru memang kreatif, tapi apakah dengan melakukan sesuatu yang baru, dan sesuatu yang baru itu tergolong sesuatu yang tidak baik bahkan tidak menjadi sebuah pemecahan masalah dan malah menimbulkan masalah baru?


Bingung inti sebenarnya mau nulis apa, udah keburu ngantuk.. laptop pakai acara lemot BGT... 

Yo wis, setidaknya sudah terwakilkan ketidak-nyamananku tentang seni dan kreativitas yang di 'luar batas'... kalau menurut teman-teman gimana??? Wanna share with me??? Monggoo.. :) :)

Thursday, 10 April 2014

Pemilu 2014



9 April 2014, sesuatu yang dinanti-nanti oleh semua partai politik. Aku harus mulai dari mana ini? Begitu banyak yang ingin diutarakan, karena begitu banyak pemikiran untuk hal ini.

Mulai dari mana saja ya.. semoga tidak ada yang terlewatkan untuk diungkapkan di sini.

Seharusnya aku sudah mulai menulis di sini sebelum ‘pesta demokrasi’ ini datang. Aku ingin mengungkapkan partai-partai mana saja beserta profil caleg mereka masing-masing lengkap dengan ‘track record’nya.. Sayangnya ada yang lebih penting untuk aku selesaikan terlebih dahulu. Tesis, as you know, i am still here, Pascasarjana Biomedik FKUI.

Kalau di flashback... dahulu orang-orang malah takut untuk menjadi pemimpin, ada pun yang ingin menjadi pemimpin adalah orang-orang yang benar-benar real ingin mensejahterakan rakyatnya. Cerita di dongeng-dongeng pun tentang sebuah kerajaan, walaupun mereka sistemnya turun temurun untuk memimpin sebuah negeri, tapi kehidupan mereka diperuntukkan memang khusus untuk kesejahteraan rakyatnya. Apa yang terjadi sekarang di Indonesia? Mereka berebut kekuasaan, mereka berebut kursi dan ada juga yang saling menjelekkan antar partai. Come on guys... kalian itu mau jadi pemimpin atau mau cari kekuasaan di dunia yang fana ini? Baiknya saling mendukung sajalah ya... Aku pernah baca sebuah berita yang menyatakan lebih kurang seperti ini “kenapa harus saling caci maki, menjelek-jelekkan partai dan orang lain? Sebaiknya saling berkomunikasi, dan lebih baik beradu argumen untuk visi misi serta tindak lanjut kinerja apa yang akan diambil supaya Indonesia ini lebih baik. Daripada harus saling menjatuhkan”. Yup menurutku pendapat ini benar. Kalau memang niatnya tulus untuk menjadi wakil rakyat, menjadi dewan rakyat, obrolannya seharusnya tentang bagaimana supaya Indonesia ini lebih maju dan lebih baik lagi ke depannya, bukannya malah saling serang dan bermain curang dengan ‘serangan fajar’ nya.

Kadang aku sampai merasa aneh luar biasa dengan sistem yang tidak jelas. Contoh saja tentang ‘syarat seseorang bisa mencalonkan diri menjadi DPR, DPRD dan DPD’. Apa syarat nya? Kata teman-temanku tidak ada syarat khusus. Ok, wait I want to search it... Sebenarnya apa syarat untuk mejadi wakil rakyat ini, kenapa seorang yang dengan pemikiran picik pun, bisa lolos, kenapa seorang yang berpendidikan moral sangat rendah, bisa lolos. Apa syaratnya?

Allahu Rabbi... Ternyata menjadi caleg nya tidak ada ‘syarat khusus’ yang menurutku harus diadakan... Syarat menjadi caleg itu telah ada pada UU No 8 tahun 2012. (silahkan searching bunyi UU  NO. 8 tahun 2012)

Dari beberapa syarat menjadi caleg yang menurutku sangat simple ini, sebenarnya apa ya tugas para caleg ini, kenapa syaratnya begitu simple? Apakah mereka tidak diembankan tugas yang berat (seperti bayanganku)?

Ok, lets searching again... Untuk memastikannya aku harus cari sumber terpercaya dulu. Waktu SMA sudah belajar sih tugas legislatif apa, tugas yudikatif apa dan tugas eksekutif itu apa. Dan ternyata hasil searching malam ini adalah... Jeng jeeeeeng...
Tugas legislatif itu lebih kepada MEMBUAT UNDANG-UNDANG!!!

Wew.. apakah dengan syarat se-simple itu bisa memenuhi kinerja orang-orang yang akan membuat undang-undang untuk Indonesia tercinta ini??? *menyedihkan... Siapa yang bertugas mengatur syarat dan ketentuan untuk menjadi anggota legislatif ini??? Tolong.. Somebody.. Siapapun, tolong suarakan, agar syarat dan ketentuan untuk menjadi legislatif itu lebih di telaah kembali. Syaratnya terlalu SEDERHANA untuk mengemban tugas membuat Undang-Undang...

Membahas tentang politik memang tidak ada habisnya. Membahas tentang Negara memang complicated banget.

Ok, back to topic. Pemilu 9 April 2014, sebagai mahasiswa yang tidak bisa pulang kampung untuk ikut memilih, aku update-update berita terbaru, aku email kpu, tanya sana tanya sini bagaimana caranya supaya bisa memilih tanpa harus pulang kampung. Kpu tidak membalas email, tapi aku mendapat info dari teman-teman, kalau perantauan tetap bisa memilih dengan cara mengurus form A5. Entahlah apa itu form A5, sosialisasinya kurang sekali, atau memang karena aku tidak nonton televisi kali ya? Tapi tetap cari tau, apa itu form A5, dan hasil searching menyatakan form A5 itu adalah surat untuk pindah TPS.

Mulai menelfon, mengabari orang-orang yang kira-kira bisa membantuku untuk mengurus form A5 ini ke kelurahan di kampung. Mama sampai bolak-balik ke kelurahan (kasian, maaf ya ma). Tapi hasilnya nihil. Orang di kelurahan tidak tahu sama sekali dengan form A5. Mama memberikan hp beliau yang sedang terhubung dengan hp-ku. Berbicaralah aku dengan sang petugas... Aku berusaha menjelaskan form A5 itu apa. Tapi dia tetap kekeuh, menyatakan ‘kejujurannya’ akan ketidaktahuannya tentang form A5.

Tak tahu harus berbuat apa dengan ketidaktahuan mereka ini, akhirnya aku menyerah untuk menjelaskan kepada mereka. Kembali berusaha email kpu, memberitahukan situasi yang kualami. Lagi-lagi kpu tidak memberikan balasan email. Pasrah.

Suatu siang, aku bertemu dengan salah satu teman di kantin kampus. Beliau menginformasikan BEM UI memasang sebuah pemberitahuan tentang “hak suara yang masih bisa digunakan bagi mahasiswa perantauan”. Selesai makan, aku segera mencari informasi pasti tentang pemberitahuan tersebut di papan pengumuman.

Sayang sekali foto pemberitahuannya udah opi hapus. Intinya adalah para mahasiswa perantauan bisa memilih dengan syarat mengisi sebuah formulir kemudian melampirkan fotocopy ktp dan ktm. Tapi jadwal pengurusannya sudah lewat. Telat tahu informasinya.

Pantang menyerah, aku coba menghubungi cp-nya, aku jelaskan kasusku. Ternyata mereka hanya mengurus untuk mahasiswa S1 aja, tidak untuk S2. Aku mencoba membujuk, minta tolong agar aku bisa ikut serta. Dan mereka akan tanya dulu informasinya kepada dekan, apakah bisa atau tidak dan akan di informasikan esok harinya.

Esok harinya aku menunggu, di sela-sela kerja di lab, selalu liatin whatsapp, menunggu kabar dari panitia BEM UI nya. Sudah sore, masih tidak ada informasi, aku berfikir mungkin dia sibuk, atau mungkinkah dia lupa bahwa ada seseorang yang sangat berharap untuk di bantu? sekitar jam 17.21 wib, aku beranikan diri untuk bertanya. Takut merepotkan sebenarnya, makanya nanya nya agak lama mikirnya. Udah hampir maghrib, baru nanya. Ternyata bisa. Aku diperbolehkan untuk mengurus, tapi deadlinenya adalah hari itu juga. Akhirnya janjian ketemuan di sekre BEM maksimal jam 19.00. Selesai shalat maghrib, aku segera ke kampus. Kecintaan terhadap negara ternyata bisa mengalahkan rasa takut. Hahay, yah biasalah aku kadang masih suka takut dengan hantu dan segala macamnya. *kadang-kadang lho yaaaaaaaaaaaaaa... hehehe.. :p

Ternyata di sekre masih rame, ada yang lagi rambul. Isi formulir, serahkan fotocopy ktm dan ktp, say thanks, and caw kekosan lagi. Berharap bisa memilih di Jakarta. Akan ada informasi selanjutnya dari mereka. Aku sempat berpesan “jangan sampai hilang ya data opi, amanah nih.. amanah.. hehe”... Panitia memberikan kepastian juga akan dibantu semaksimal mungkin.

Satu minggu kemudian, tepatnya 5 April 2014, datang sms dari BEM, sebuah sms berisi sebuah link. Ketika di buka link, link tersebut menyebutkan bagi perantauan tetap harus mengurus form A5. Kaget, langsung menghubungi BEM kembali. Masih nyimpan percakapannya nih:

OPI: Aslm. Tetap harus ngurus form A5 y? Kirain opi ngurus ke BEM kemaren bakalan ga ngurus form ini lagi. Soalnya di tempat opi, petugasnya ga ngerti dan malah ga tau tentang formA5...



BEM: Iya kak saya udah coba nego dan minta toleransi sampe kpu pusat tp mereka nolak kak. Saya udah ceritain masalah kak opi tp ya kpud jakpus tetep kekeuh

Bete, akhirnya opi tutup pembicaraan dengan mengucapkan terima kasih dan mereka pun minta maaf tidak bisa membantu. Padahal sudah searching-searching profil beberapa caleg.

Iri melihat orang-orang yang sudah siap-siap memilih, yang sudah mempunyai calon-calon mereka sendiri. Dan greget melihat orang-orang yang bisa menggunakan hak suaranya tapi malah memilih untuk golput. Sayang banget. Entahlah kenapa aku terlalu ngotot untuk ikut pemilu kali ini. Kepribadianku sepertinya berubah total. Dulu nerimo2 aja, sekarang boleh dibilang ‘keras kepala’... keras kepala dari dulu sih sebenarnya, tapi sekarang lebih ekspresif dan lebih terlihat lebih keras kepalanya. Hahay.. ckckckck...

Aku curhat sama sepupu. Bete tingkat akut. Dan hari Minggu-nya kebetulan aku menjadwalkan untuk ke rumah beliau di Depok, sekalian balikin buku, sekalian silaturrahim, sekalian lihat kabarnya yang sedang hamil 6 bulan.

Tak ada yang kebetulan sebenarnya di dunia ini. Semua sudah di atur olehNYA. Sesampainya di rumah beliau, ternyata suami beliau tahu tentang kasus opi. Cerita cerita cerita, akhirnya opi di tawari untuk menjadi saksi. ‘kebetulan’ (ga ada yang kebetulan opiiiiiii.. hohohoho) di salah satu tps, sedang kekurangan saksi. Terfikir olehku, tidak nyoblos pun tak apalah, yang penting bisa ikut berpartisipasi. Aku menerima tawaran beliau.

H-3 pemilu banyak sekali info info tentang perantauan yang ku dapat, bagaimana proses nyoblos tanpa form A5. Akhirnya aku inisiatif, minta tolong mengirimkan surat undangan memilihku di kampung ke jakarta. Setidaknya ada bukti bahwa aku tidak menyoblos di kampung. Persiapan berkas-berkas pun ku usahakan, minta tolong pengiriman paling cepat dari kampung, menyiapkan ktp dan fotocopy-nya, menyiapkan ktm dan fotocopy-nya. Ok siap!!!

Senin, abang ipar ngirimin surat undangan pakai pos express. Senangnya luar biasa. Senin itu jadwalnya aku menyelesaikan semua bab I- bab III tesis ku serta progress report dan laporan pertanggungjawaban keuangan beasiswa LPDP ku. SELESAI!!!

Senin malam aku sudah bawel nanyain ke ibu kos perihal suratku. Tidak ada. Yah, maklum mungkin baru sehari, kemungkinan besok. Sorenya aku tanya lagi ibu kos. Tidak ada. Hopeless. Hatinya menciut lagi.

Karena rabu menjadi saksi, aku gantian mengajar privat jadi hari selasa. Malam sepulang ngajar, aku diberikan berkas untuk bekal menjadi saksi. Seharusnya para saksi dari partai yang aku wakilkan di salah satu tps ini mempunyai pelatihan untuk semua saksi pada hari Minggu kemaren, tapi aku berhalangan untuk hadir. Akhirnya penjelasannya malam H-1. Dan aku paksakan untuk membaca buku petunjuk yang diberikan partai untuk pedoman menjadi saksi, di dalamnya ada syarat-syarat jenis surat suara yang sah dan tidak sah. Aku paksakan untuk membacanya walau ngantuk dan cape berat. Akhirnya ketiduran di pertengahan bacaan. Malamnya aku tak tenang dan terbangun, shalat, baca lagi, sampai subuh. Mempelajari setiap detailnya. Maklum, pengalaman pertama nih. Tidak ingin menjadi saksi yang ‘abal-abal’.

Habis subuh, bersiap-siap, setengah 6, aku sudah berangkat dari kosan. Menuju TPS 44 matraman dalam II. TPS ada di mana-mana bahkan ada yang menutup jalan. Akhirnya sesampainya di TPS 42, aku terpaksa jalan kaki mencari TPS 44. Aku kira tidak akan jauh... karena aku bertemu pertama kali dengan TPS 42 yang hanya selisih 2 angka dari tps-ku. Tapi tidak saudara-saudara, aku harus berjuang lagi. Ketemu dengan tps 45, 43, 40, 41... ah susah sekali jalanan di Jakarta ini. Muter... muter.. muter... But i try to enjoy it. Masih belum jam 06.00 WIB.

06.10 WIB akhirnya sampai di TPS 44, dengan bekal tanya sana tanya sini.. Sesuatu banget. Sempat berfikir.. ‘ada ga ya saksi lain yang punya kasus seperti opi? Musti keliling-keliling dulu buat nyariin tempat dimana dia bertugas’. Weleh-weleh...

Di buku petunjuk pemilu, saksi diharuskan datang satu jam sebelum acara dibuka. Dan paling lambat 06.30 WIB. Untungnya Cuma telat 10 menit. Tapi... TPSnya sepi.. ya elah... hanya ada beberapa orang. Dua orang petugas dengan pakaian rapi yang sepertinya merupakan bagian keamanan dan membantu lancarnya acara pemilu. Kemudian ketua KPPS yang masih santai duduk menggendong seorang anak kecil (entah ini cucu atau anak beliau), dan 2 atau 3 orang warga sekitar. Aku cengo melihat tps sunyi. Gagap mau berkata apa, akhirnya si bapak ketua menyapaku, bertanya ada keperluan apa, dan barulah bisa berkata-kata. Aku diberi name tag.

Baru aku seorang yang hadir sebagai saksi. Wedew, untungnya warga di sana ramah tamah, aku di ajak ngobrol, di ajak bercanda, walau mereka semua lelaki semua.. Para bapak-bapak nongkrong pagi-pagi di TPS. Tak lama kemudian, datang seseorang, dari kejauhan ketika melihat beliau, aku berasa kenal, tapi entahlah siapa. Beliau menghadap ketua KPPS yang sudah rapi dengan baju koko putihnya (seragam KPPS TPS 44). Dan kemudian menghampiriku... Memberikan sebuah kertas dan tepukan di lengan atas kiri ku. ‘SEMANGAT YA!!!’

Serrrr.. merinding!!! “Ya mbak, OK. SIP”... Ku jawab lantang dan menunjukkan jempol kananku kepada beliau.

Ternyata beliau adalah salah satu anggota partai yang pernah menjadi saksi juga di TPS yang sama di pemilu sebelumnya. Beliau memberikan sebuah kertas kecil, ternyata itu adalah bukti dari KPPS bahwa surat mandat bertugasku sudah diberikan ke KPPS tersebut.

Tercenung melihat sosok beliau berlalu meninggalkan TPS, melangkah dengan tegapnya. “Seorang wanita yang luar biasa pastinya”, aku membatin.

Sambil menunggu pukul 07.00 aku melihat sekitar, kesibukan KPPS menyiapkan tempatnya dan beberapa warga yang datang untuk melihat list partai dan caleg yang sudah terpampang di sebuah papan tulis. Ternyata memang masih banyak warga yang belum tahu siapa yang akan mereka pilih, dan tidak tahu apa visi misi caleg tersebut.

Pukul 07.00 WIB. Semua sudah siap. Beberapa saksi sudah berdatangan. Acara di mulai. KPPS di sumpah oleh ketua KPPS. Ketua KPPS membacakan aturan-aturan. Dan mulailah ‘pesta demokrasi’ ini. Acara berjalan lancar. Aku menunggu-nunggu waktu untuk bisa ikut menyoblos. Dan lagi.. ‘kebetulan’ yang sebenarnya bukan kebetulan, tapi memang sudah ditakdirkan... para saksi ngobrol dengan pak RT yang bertugas memastikan warga mencelupkan jarinya pada tinta. Ngobrol tentang surat suara tambahan dan surat suara khusus. Aku nimbrung, dan sekaligus bertanya bagaimana prosedur memilih untuk kasus sepertiku. Beliau menyatakan, urus ke pps dulu. Setelah mendapat izin dari pps, baru bisa nyoblos. Girang.. hatiku girang. Langsung sms tim sukses partai, minta digantikan untuk sementara opi mengurus surat ke pps. Tim sukses yang berhubung adalah suami sepupuku, mencarikan gantinya.

Ada satu yang aku takjubkan dari partai ini. Entahlah ini hanya berlaku di matraman saja atau memang di seluruh Indonesia. Berasa aura-aura perjuangan Al-Fatih. Aku seolah mengenal mereka walau sebenarnya aku belum pernah bertemu sama sekali. Mereka khas... Ukhuwahnya... Perjuangan dengan iman...

Aku digantikan. Kemudian ditemani abang sepupu, aku menuju pps matraman. Sempat berdebat. Dan aku sempat kesal degan keputusan yang mereka ambil. Tidak bisa membantu. Walau aku sudah menjelaskan perjuanganku mengurus segala form yang diperlukan. Pps ramai, akhirnya aku putuskan untuk menunggu pps sepi dengan pengunjung yang juga sibuk mengurus hak suaranya. Ketika sepi, aku jelaskan kembali, perlahan tapi pasti. Tapi tetap tidak bisa. Aku yakinkan juga bahwa aku memang benar-benar sedang merantau ke sini dengan menunjukkan ktm ku. Tetap tak bisa. Kesal luar biasa. Positif thinkingnya, mereka berlaku demikian karena mungkin juga takut adanya “pergerakan massa”. Karena aku sempat mendengar, ada yang menghubungi lewat hp, menanyakan ‘apakah bisa memilih di jakarta pusat, sementara undangan memilih ada di jakarta barat’. Masih kawasan jakarta. Sementara kasusku, di antar pulau. Yah, aku maklum mereka mengambil keputusan demikian. Tapi tetap saja kesal, akhirnya aku berterima kasih, dan keluar dari ruangan. Di luar ruangan tak tahan lagi. Kesalnya berubah menjadi bening-bening air mata. Abang sepupuku berusaha menanyakan kembali kepada petugas pps. Mereka minta maaf tidak bisa membantu. Keluar juga sifat wanitaku akhirnya. Sambil terisak aku kembali menjelaskan “Tolong cek secara online deh pak, kita kan sudah punya e-ktp, seharusnya bisa dong di cek saya memilih di kampung atau tidak, saya bukan termasuk pergerakan massa kok pak”

Akhirnya si petugas luluh, beliau menelfon kpu, menjelaskan kasusku, dan ternyata dari kpu-nya memberikan izin. Subhanallah... Hatiku longgar luar biasa. Tapi dengan syarat, aku mendapat persetujuan dari ketua KPPS dan semua saksi yang hadir di TPS 44, dengan meminta tanda tangan mereka dan melampirkan fotocopy KTP. Aku mengiyakan segala prosedurnya. Biarlah ribet, yang penting bisa nyoblos!!!

Sesampai di TPS, aku jelaskan kepada ketua KPPS, alhamdulillah, BISA!!! Semua saksi pun bersahabat, memberikan tanda tangan mereka. Ya Allah... Benar-benar merasa paling keren saat itu. Ketika namaku dipanggil untuk mencoblos... Bismillah, sesuai hati. Semoga bisa berperan dalam kebaikan. Dan ketika mencelupkan kelingking ke tinta, menggigil, gemetaran, pengen nangis, tapi malu, terharu banget... Bangganya aku bisa ikut memilih!!!

Hahay, sudah panjang saja ini cerita. Coba kalau ngetik tesisnya selancar ini ya.. hohohoho...

Saatnya tugas sebagai saksi aku laksanakan. Penghitungan suara. Pukul 13.30 WIB, setelah istirahat, makan dan shalat, TPS 44 memulai menghitung surat suara. Ramai. Di belakang para saksi pun dikerumuni oleh warga setempat. Sesak. Perhitungan surat suara pertama lancar. Perhitungan surat suara kedua, aku bingung, berasa ada yang salah. Kubuka buku petunjukku. Ternyata memang ada kesalahan. Aku interupsi.

Kasusnya adalah:
Surat suara itu melubangi kertas di lambang partai dan caleg. Kemudian suara itu ditulis di bagian partai dan caleg nya juga. Seharusnya, surat suara itu hanya berlaku untuk suara caleg saja.

Aku berusaha menjelaskan, kemudian salah satu warga nyolot. Semua heboh. Menyalahkan pendapatku. Aku memberikan bukti, melihatkan buku petunjuk penghitungan surat suara. Salah satu warga yang nyolot sebelumnya masih ngotot. Para saksi yang lain entahlah apa yang mereka katakan, suasana heboh banget. Sayangnya suaraku kecil sekali di antara bapak-bapak bersuara besar itu, jadi aku harus menunggu suasana agak hening dulu, pengen teriak rasanya. Ketika suara-suara sudah mulai minim, aku kembali menjelaskan dengan melihatkan bukti buku petunjuk. Sebagian mulai terdiam. Dan alhamdulillah akhirnya KEBENARAN TELAH DITEGAKKAN!!! PUAS!!! *hohoho.. lebay banget ya?? Tapi benar-benar puas telah memperjuangkan sesuatu itu. Sebenarnya sempat takut, takutnya bukan karena aku disalahkan dan diserang oleh beberapa warga yang nyolot, tapi takut kalau penghitungan surat suara itu tetap salah.

Dan akhirnya, perhitungan surat suara berjalan lancar. Aku merasa teristimewa sekali. Saksi dari partai yang lain malah tidak tahu tentang detail syarat-syarat sah surat suara. Akhirnya ketika terjadi keambiguan berikutnya, Ketua RT yang membacakan dan memperlihatkan surat suara, kembali menanyakan bagaimana hukumnya surat suara tersebut dengan melihat kepadaku. Dan akupun melihat buku petunjukku kembali dan menjelaskan bagaimana seharusnya. Berasa disegani dan dihargai banget. Terima kasih KPPS 44. Kalian the best.. Tetap memegang sumpah yang telah kalian ucapkan.

Dari suara-suara yang telah dihitung, terlihat bahwa beberapa warga menurutku mereka memilih hanya karena info dari televisi saja. Sempat terfikirkan juga olehku. Sebenarnya demokrasi ini belum pas untuk dilaksanakan di Indonesia. Karena tidak semua rakyat Indonesia yang bisa melakukan pengamatan terhadap caleg yang ada. Mereka hanya memakan bulat-bulat apa yang diinfokan oleh televisi, koran dan radio tanpa mencari tahu lebih lanjut apakah berita itu benar atau tidak.

Perhitungan surat suara selesai pukul 21.00 WIB. Terjadi satu lagi kasus. Di berita acara, KPPS salah menuliskan jumlah suara di dua buah partai. Aku membantu KPPS untuk mengecek kembali. Membantu dengan nada tenang, biar tidak terjadi emosionalisme (kata apa ini? Hehe :p), secara hari sudah larut malam, mereka sudah keletihan. Akhirnya semua siap, beres, pas, mantap pada pukul 22.00 WIB.

ALHAMDULILLAH... Luar Biasa sekali pengalaman pertama menjadi seorang saksi. Semoga bernilai ibadah.

Aku pamit dan mengucap salam kepada seluruh KPPS.

Wa’alaikumussalam.. doa mereka melepas kepergianku dari TPS 44. Alhamdulillah di doakan keselamatan oleh banyak orang. SUBHANALLAH, ALHAMDULILLAH, ALLAHU AKBAR!!! ^_^  ^_^


*Yippiiiieee.. ceritanya kelar juga... :D

Saturday, 22 February 2014

Perjalananku menuju ridhoNya

Sudah lama sekali tidak berkunjung ke sini. Terakhir 3 februari.. Hahay.. ternyata lumayan lama juga ini blog di cuekin. Ingin share banyak hal, tapi adaa aja kendalanya. 

Ok, sekarang biarkan jari-jariku bebas untuk menekan keyboard ini. Menerjemahkan segala isi hati dan isi otak selama beberapa hari terakhir.

Sebenarnya juga ingin nge-share tentang beberapa hal tentang politik, tentang beberapa calon yang akan mengajukan diri di pemilu nanti. Tapi mungkin kali ini belum begitu sempurna sesuai keinginanku, karena ga bisa searching terlalu leluasa, sinyal lemot banget dikosan.

Pemimpin... Aku sudah pernah mencoba menjadi sosok yang di tua-kan ini. Memang benar-benar tugas yang berat. Jadi, merasa "WAH" sekali ketika banyak para para politikus yang menyalonkan diri sendiri untuk menjadi yang 'utama' ini. Satu sisi bahagia jika melihat niat tulus mereka untuk mensejahterakan rakyat, tapi satu sisi merasa sedih dan greget ketika niat tulus itu ternyata mempunyai latar belakang "uang".

Pemimpin... Beberapa terakhir ini, kehidupan dan perasaanku di obok-obok oleh beberapa kasus. Salah satu kejadian yang sedang heboh saat ini adalah, seorang pemimpin Kota Surabaya... Ibu Risma. Satu dua kali teman-teman bercerita tentang beliau, aku tidak begitu tertarik. Tapi di waktu luang di suatu subuh, iseng aku buka youtube, menetapkan hati untuk menonton acara "mata najwa" di edisi Ibu Risma sampai habis. tes.. tes... tes... air mataku menetes, tak tertahan lagi... Yang paling membuat sedih dan jengkel dan segala perasaan jadi campur aduk adalah ketika beliau mengucapkan sebuah fakta... "anak sd!!!"

Arrrggghhh.. aku semakin bersemangat untuk ikut serta memajukan pendidikan Indonesia. Setidaknya aku ingin mendidik 'dasar' nya terlebih dahulu. Semoga ketika aku menguatkan dan membentuk pola pemikiran 'dasar', semoga kelak ketika mereka besar, mereka menjadi pribadi-pribadi yang baik dan benar-benar bermanfaat.. Aamiin ya Rahiim

Yep.. bulan ini aku di galaukan, dengan pembagian waktu, tesis, penelitian (penelitian ini otaknya juga bercabang jadi 5 pemikiran), mengajar di primagama, mengajar di utan kayu, dan Volkschool. Dan itu tempatnya juga tidak di satu tempat. Aku harus berjalan kaki, naik kereta, naik angkot, menghadang macet (ah lebay banget), tapi memang itu yang ku hadapi di Februari ini. 

Tesis, aku harus berperang dengan diriku sendiri, memerangi kemalasan membaca jurnal, kalau udah baca 1 atau 2 jurnal bawaannya ngantuk, akhirnya cari kegiatan lain. Penelitian, karena kendala dana dalam penelitian, aku harus berusaha mencari sumber dana lain. Mengurus beasiswa, mengurus hibah, mungkin bagi beberapa yang sudah terbiasa mengurus hal ini, mungkin ini adalah hal yang biasa saja, tapi bagiku ini sungguh suatu yang melelahkan dan luar biasa sekali ketika aku bisa mendapatkannya. LPDP, bagaimana aku searching, tanya sana sini untuk mengurus berkas-berkasnya, mencari lokasi wawancara, berdiam menenangkan diri ketika akan di wawancara. Aku berperang dengan diriku sendiri untuk mengatasi rasa takut dan rasa gugupku sendiri. Dalam diamku.. sebenarnya itulah yang terjadi. penuh gejolak rusuh dalam hati ini (hahay, bahasanya lebay ya? but its true!!!). Selain LPDP, aku juga dilibatkan dalam sebuah hibah, proyek dosen untuk menutupi biaya penelitianku yang sebenarnya juga hibah, tapi dananya sudah habis entah kemana oleh si penerima hibah. Aku menyusun proposalnya, aku membantu membuat anggaran dananya, dan aku mencari-cari tanda tangan orang yang berkepentingan untuk tanda tangan. Di saat aku sudah booking alat untuk penelitianku di lab terpadu, aku terpaksa membatalkan dan menuju depok sendirian, mencari tanda tangan. hahay, kelihatannya biasa saja ya, tapi saat itu tenagaku terkuras luar biasa. Aku ke Depok dengan hati ngedumel, karena itu energiku cepat habis, dari stasiun pocin, jalan kaki menuju DRPM, naik ke lantai atas, ternyata tempatnya bukan di sana lagi,  kemudian turun lagi, dan jalan lagi menuju gedung berikutnya. Fiuh,, melelahkan apalagi ditambah dengan hati yang tidak ikhlas.. *Pelajarannya adalah... Cintailah pekerjaanmu... (bUt I Can't!!! if the other people ask me mendadak dan tanpa mempertanyakan persetujuanku.. aku juga berhak untuk memilihkan? aku juga punya kesibukan!!!) Hahay.. Sudahlah.. tenangkan hati kembali... Tenaaaaang.. :) :)

Ah sepertinya akan kembali emosi dengan paragraf berikut ini. Penelitianku tidak hanya sampai di sana saja. pembagian waktu di lab, membuatku tidak bisa berpikir dengan baik. Harus membantu western blot, harus melihat bayi bayi sel kanker prostat di lab kultur dan pembagian waktu dengan 'real time'ku sendiri. Nah bagaimanakah aku membagi otak dan waktuku dengan hal hal ini? Belum lagi, sorenya aku mengajar.. malamnya aku ngajar lagi. 

Sibuk itu lumayan membuat pikiran teralihkan dari hal-hal yang tidak perlu dipikirkan, tapi lumayan membuat capek tiada henti, akhirnya kelabakan sendiri. Belum lagi, beberapa terakhir disibukkan dengan oprec Volkschool. Ketika sedang membaca jurnal, sedang konsentrasi, tiba-tiba datang sms atau chat WA, perihal oprec. Hahay, beberapa hari terakhir benar-benar luar biasa sibuknya. Belum lagi waktuku banyak disita oleh "perjalanan kaki"... Untuk oprec Volkschool, aku benar-benar jalan kaki, dari FKUI-Cikini, Pocin-Perpustakaan UI Depok, kemudian balik lagi. Mengajar di Primagama juga jalan kaki "FKUI-Primaga Cikini".. trus balik lagi.. Perjalanan yang luar biasa melelahkan. Jauuuuuh euy... Semoga bernilai ibadah di setiap langkahnya.

Volkschool.. Bagaimana kabar Volkschool hari ini? Alhamdulillah tim kita semakin banyak setelah oprec. Semoga saja semua tetap bertahan dan tetap istiqamah. Adik-adik di Cipete juga sepertinya bersemangat sekali untuk belajar. Masa-masa oprec adalah masa-masa yang membuat 'rempong' bagiku. H-1 menuju "gathering hasil oprec" membuatku pulang malam dari Depok. Huaaah.. baru kali itu aku pulang malam, dan menelusuri jalan-jalan yang sepi plus lewat kamar jenazah RSCM. Di keseharian sih lewat sana biasa-biasa aja, tapi berhubung sebelumnya aku mendapat cerita yang tidak-tidak tentang alam ghaib, jadilah melewati jalanan itu begitu membuat keringat dingin bercucuran. Setelah melewati kesendirian di perjalanan yang sepi, rasanya ALHAMDULILLAH banget!!!! hohoho...

Oya, ngomong-ngomong tentang Volkschool, tadi pagi dapat gambar ini  nih...

ngeliat gambar ini, berasa ingin dipeluuuk tuh anak yang ga punya sendal... pengen ngerangkul..

Hm... Kita manusia adalah makhluk sosial. Tidak semua orang yang seberuntung kita untuk menikmati segala ke glamour-an dunia... Tidak semua orang yang seberuntung kita untuk memiliki pakaian yang layak, makanan yang layak. Yuk Berbagi... :) :)




Monday, 3 February 2014

Proses Belajar

Tak sekali dua kali benakku sempat berfikir, sebenarnya bagaimana sistem belajar itu sendiri? Bagaimana proses seseorang belajar? Dan hal ini kembali terpikirkan ketika Jakarta dilanda banjir dan masyarakat yang sedang diungsikan di sebuah perkumpulan pun memilih-milih makanan bantuan, dan bahkan ada yang menumpuk makanan. PRIHATIN!!! Menumpuk makanan di sembarang tempat. Aku menjadi tahu, kenapa kota ini menjadi banjir. Kesadaran masyarakat akan lingkungan itu sendiri memang tak ada. Tergambar bagaimana mereka menolak makanan bantuan tersebut dan menumpuknya di sembarang tempat. 

Teringat juga, ketika sedang duduk-duduk di salah satu stasiun kereta api, aku menemukan seorang remaja yang membuang sampah sembarangan, padahal tong sampah tepat di belakangnya. Pengen jambak tuh rambut si remaja!!!

Aku berfikir, bagaimana mengajarkan orang-orang yang seperti itu? Dan aku kembali bertanya-tanya, sebenarnya bagaimana proses kita belajar itu?

Aku membayangkan, bagaimana aku belajar, bagaimana aku berusaha mengerti sesuatu. Dan jawabannya adalah...

Sang guru/pengajar akan memberikan contoh yang benar kepada muridnya, memberi tahu hal-hal yang baik dan yang buruk. Yup GREAT!!! Itulah sebuah pembelajaran. Kita mendapat ilmu, dan meniru apa yang dikatakan guru. Baik guru itu berupa manusia atau berupa buku. 

Lalu bagaimana solusinya bagi masyarakat yang memang tidak sekolah??? Ah, lagi-lagi ini sebenarnya bisa diatasi jika setiap orang punya semangat belajar, punya rasa ingin tahu, punya keinginan untuk memiliki pemikiran yang lebih baik.

MINDSET!!! Beralihlah kepada pemikiran yang baik...

HIDUP ITU UNTUK BERIBADAH KEPADA SANG KHALIK!!! 

Monday, 13 January 2014

Moderator

Hari ini teringat tentang kisah seorang gadis yang dulunya pendiam sekali, sampai-sampai dulu ia sampai ditakuti oleh teman pria-nya, takut nanti kalau diajak bicara atau diutarakan cinta, dia bakalan menangis. Pun dulu seorang gadis ini tidak pernah bahkan sangat menjauhi bersentuhan dengan yang namanya cowok. Dalam hatinya pernah ada rasa suka, tapi tidak terlalu diumbar dan ia pendam sendiri. Sekarang, lihatlah gadis itu, dia tumbuh dengan cepat, waktu berlalu sangat cepat. Dia tak lagi pendiam seperti dulu, bahkan sekarang dia mempunyai teman cowok yang lumayan banyak.

Teringat juga saat dia tampil. Tampil di depan umum, di depan kelas, di depan khalayak ramai dan di atas pentas. Begitu pesat perubahan si gadis.

Moderator... 18 Desember 2013 kemaren, ia ditawari untuk menjadi moderator sebuah acara Rohis FMIPA UI...

Kalau diingat-ingat Allah memang Maha Pengabul  Do’a. Apapun yang diminta si gadis, Ia selalu mengabulkanNya... Dulu saat menjalani hari-hari kuliah di semester yang menjemukan, si gadis mengisi kegiatannya dengan mengikuti beberapa seminar. Bosan dengan materi sang penyaji, si gadis secara tak sengaja berfikir “Aku juga ingin tampil di depan pentas yang bagus itu ya Rabb”. Dan apa? ALLAH MENGABULKAN!!! ALHAMDULILLAH LUAR BIASA!!! Si gadis sangat bersyukur berkenalan dengan Allah dan ingin lebih dekat denganNya.

Sebenarnya sebelum menjadi moderator, si gadis juga pernah tampil di depan umum, bahkan bukan hanya di depan mahasiswa/i. Ia pernah tampil di depan PARA ORANG TUA!!! Menjual suatu ‘jasa’ pendidikan, menjadi orang yang bersemangat sekali berbagi ilmu dan mengajak para ibu/bapak siswa/i untuk mendaftarkan anak-anaknya ke salah satu lembaga pendidikan tempat ia mengajar. Saat bekerja di lembaga itu pun, ia pernah nge-MC acara yang di buat oleh TIM hebatnya... Lomba Menggambar!!! Lumayan banyak peserta yang hadir. Anak-anak beserta orang tuanya. LUAR BIASA!!!

Perubahan yang LUAR BIASA!!!

Menjadi moderator, MC dan marketing. Walau sama-sama tampil di depan khalayak ramai, tapi ini sangat berbeda sekali persiapannya. Menjadi seorang marketing, kita harus tau tentang profil perusahaan kita. Apalagi ketika sang gadis menjadi marketing untuk sebuah jasa pendidikan, ia tak hanya mempersiapkan pengetahuannya tentang marketing, ia juga harus tau ilmu apa yang akan ia janjikan untuk para orang tua beserta calon siswa/i nya kelak. Ia harus mempelajari trik marketing dan ia harus mempersiapkan ilmu pengetahuannya tentang mengajar, hitung-hitungan, otak kiri dan otak kanan. KOMPLIT!!!

Menjadi seorang MC juga beda persiapannya. Apalagi berada di acara yang pesertanya adalah anak-anak. Sedikit memutar otak bagaimana menghandle anak-anak  dan bagaimana tetap membuat bahasa yang dilontarkan tidak membosankan tapi tetap bisa di mengerti  dan tetap ceria serta bersemangat. Salah satu keuntungan si gadis menjadi MC saat itu, karena ia sangat tahu konsep acaranya dan ia terlibat langsung dalam kepanitiaan tersebut. So, apapun kebingungan yang terjadi, ia bisa mengambil keputusan dengan cepat.

Moderator...
Sesuatu yang terlihat berkelas bagi si gadis... Moderator itu adalah seorang penengah yang juga harus berwawasan luas. Mungkin juga bisa disamakan dengan para pembawa acara sebuah diskusi politik di sebuah televisi *hehe, perbandingannya jauh banget

Menjadi moderator saat itu membuat si gadis sangat nervous. Ia sampai searching habis-habisan bagaimana trik menjadi moderator yang baik dan benar, bagaimana menjadi moderator yang menyenangkan. Dan di salah satu web yang ia baca, ia menemukan “salah satu tips untuk menjadi moderator yang baik adalah dengan mengetahui isi materi si pembicara”. Si gadis langsung menghubungi panitia acara. Ia meminta profil si pemateri  beserta handout presentasinya. H-3 tak kunjung datang apa yang di minta. Akhirnya si gadis searching dan jalan-jalan ke taman google. Apalagi salah satu syarat menjadi moderator yang baik itu adalah memberikan pertanyaan untuk memancing peserta seminar bertanya kepada pemateri dan menyimpulkan materi yang telah diberikan. Bagaimana bisa memberikan pertanyaan dan mengutarakan sebuah kesimpulan jika tidak tahu dan tidak paham apa isi materi yang telah disampaikan.

Beruntungnya lagi, si gadis memang bergerak di bidang yang sama dengan si pemateri. Apalagi pemateri kedua adalah pembimbingnya sendiri. Jadi setidaknya tidak begitu canggung dengan materi-materi yang akan diberikan.

H-1, pemateri pertama membatalkan kesediaannya. Mendadak. Dan digantikan oleh dosen lain. Si gadis harus searching lagi profil tentang beliau. Eeerrrrrggghhh... Padahal persiapannya sudah matang sekali dengan pemateri yang ‘gagal tampil’ ini. Secara, si dosen ‘gagal tampil’ ini juga lahir pada tanggal dan bulan yang sama serta juga lulusan dari jurusan yang sama dengan si gadis. Setidaknya ada bahan obrolan pembuka untuk berkenalan dan membuat suasana cair. Tapi... Hm.. Wew.. pematerinya ‘gagal tampil’.

Kacau. Akhirnya semua harus ditenangkan lagi dalam hati sang gadis. Ia berusaha tetap enjoy. Apapun yang terjadi, namanya juga belajar. Apapun yang terjadi, manusia di dunia ini tidak pernah tidak melakukan kesalahan dan semoga panitia dan peserta memaklumi kesalahan yang di buat sang gadis.

Di hari H. Sesampainya di lokasi, panitia kurang begitu hangat dirasa oleh sang gadis. Karena memang mereka juga sepertinya pada gugup dengan acara itu. Maklum, yang mengadakan acara tersebut adalah mahasiswa angkatan muda. Dan kepanitiaan mereka tidak bisa hadir semua, bahkan yang menawarkan si gadis menjadi moderator pun tidak bisa hadir di seminar yang pertama (seminarnya ada 2 kali). Mencoba tetap enjoy, mencoba mengakrabkan diri, tapi ternyata panitia pun tidak secerewet yang dikira oleh sang gadis. Si gadis mengira, orang yang sudah ikut organisasi itu, minimal bisa berbicara dan beradaptasi dengan orang baru. Tapi ternyata juga tidak semuanya begitu. Fiiiuuuh. Semakin tidak enak dengan suasananya.

Pemateri pertama pun datang, dan ia sibuk dengan power point-nya. Si gadis pun tidak enak untuk berkenalan di saat si pemateri juga sepertinya gugup (pemateri dadakan).

Briefing itu memang penting ternyata. Acara yang sudah di ancang-ancang dari waktu yang sekian lamapun, kalau tidak ada konsep yang jelas dan tidak ada komunikasi yang baik, tidak akan berjalan lancar.

Ah sudahlah, waktunya telah datang. Si gadis di panggil untuk segera datang mengisi tempat sebagai ‘moderator’ dan disambut tepukan tangan peserta.. Wew.. ada sedikit rasa malu di sana.. Berasa seroang artis yang penting saja. Akhirnya grogi... Pembukaan tidak begitu lancar karena juga ada sesuatu yang mengganjal di barisan ‘penonton’ bagi si gadis. Tak bisa memandang peserta secara langsung, akhirnya moderator awam ini mengalihkan perhatiannya yang ‘terpaksa ke penonton’ kepada sebuah tulisannya tentang profil sang pemateri. DIBACA!!! Kesalahan fatal... Ckckckck... Tapi saking banyaknya profesi si pemateri tersebut, akhirnya si moderator awam ini memutar otaknya, bagaimana supaya acara ini ‘hidup’.

“Beliau juga pernah mengabdi di unit bayi tabung IVF MTIE FKUI yang tentunya ilmu dan pengalaman beliau sangat berkaitan dan sangat bermanfaat untuk topik kita kali ini, langsung saja kita persilahkan kepada ibu Upi untuk berbagi ilmu kepada kita semua”

Pembukaan yang kacau. Setelah pembukaan si gadis mengambil posisi duduk di atas sebuah pentas yang sudah disediakan 2 buah kursi dan 1 meja. Duduk di sana dengan tidak nyamannya mengenang pembukaan acara yang labil banget. Malu, tapi itu sudah berlalu. Pasang tampang senyum walau hati masih manyun. Mendengarkan setiap materi, siagakan telinga dan otak, mencatat pertanyaan-pertanyaan yang timbul. Dan pemateri pun tidak bersahabat dengan moderator. Ia berbicara seolah acara miliknya, seolah moderator tidak ada, mondar-mandir di bawah pentas. Yah, mungkin sangat menikmati menjadi pemateri sepertinya, atau sebenarnya beliau juga gugup??? Di sesi pertanyaan pun, si pemateri tidak mengambil posisi di bangku yang sudah disediakan di pentas. Si moderator jadi keder, duduk sendirian seperti ‘patung pajangan’ tanpa ada yang menemani.. Beuh...

Alhamdulillah materi selesai dan pertanyaanpun silih berganti tanpa harus ada pertanyaan ‘pemancing’. Dan moderator menutup acara dengan luar biasa (menurutnya). Merangkum materi yang telah disampaikan dan memberi semangat pada peserta, membangkitkan rasa syukur...

“Kita adalah para PEMENANG... Dari sekian juta, hanya kita yang bisa masuk dan menjadi manusia PERAIH KEMENANGAN SEJATI”

Si gadis yang melontarkan kata-kata itu ikutan merinding mendengar kata-katanya sendiri.

Next, pemateri kedua. Pembukaannya enjoy, karena si pemateri kedua langsung bertegur sapa dan ngobrol enak dengan si gadis. Tapi penutupnya manjadi kacau, karena di desak oleh waktu. Oya satu hal lagi kekurangan kalau menjadi seorang pembawa acara sebuah acara dimana tidak begitu mengenal panitianya. Pastikan setting timer, benar-benar bisa di handle dengan baik. Saat seminar pertama si gadis sebenarnya sudah memastikan, dan panitia pun deal dengan reminder timernya dari mereka. Tapi ternyata mereka memberi reminder kepada moderator *gedubrak.. bukan kepada pemateri.. Kalau moderator sih udah tahu waktu, karena di depannya sudah ada jam yang terpampang lurus di depan mata... Miss communicate... ckckck.

Untuk ke depannya, mungkin bisa lebih dipastikan, reminder time nya dari siapa untuk siapa... O.o
Sebenarnya masih banyak detail-detail saat si gadis menjado moderator, tapi untuk kali ini cukup sampai di sini dulu... ^_^ ^_^


Sekian hasil bertualang sang gadis menjadi moderator dalam sebuah acara “THE MIRACLE OF HUMAN CREATION” 

Monday, 30 December 2013

KULIAH LAPANGAN ALBIONA CIBUBUR, SITU GUNUNG dan CURUG SAWER ^_^ ^_^

Ok. seringkali kalau nge-blog, judul selalu tidak sesuai dengan isinya.. hahay. Kali ini judulnya belakangan, setelah cerita ini rampung.

Awalnya agak melankolis.. Tapi semoga happy ending... Lets start..

Kembali lagi. dimulai dari 25 Desember 2013 sampai 28 Desember 2013, aku mulai menjelajah lagi setelah beberapa bulan suntuk dan stres tingkat dewa menghadapi sel-sel, penelitian, keadaan laboratorium yang komplit dengan berbagai masalahnya (baik itu masalah dosen, masalah sarana prasarana dan masalah-masalah lainnya), serta masalah hati yang tak kunjung reda.

Yang paling membuat stres itu sebenarnya adalah alasan terakhir.. Haha.. 
Tapi alasan lain tak kalah membuatku semakin kurus dan ceking. Kalau diingat-ingat lagi beberapa bulan lalu ketika aku terjatuh, sakit, lelah, sembrawut.. ampun dah... Itu benar-benar pengalaman yang Maha Dahsyat mengguncang jiwa.. *hiperbola 

Perjalanan kali ini tergolong perjalanan yang sangat santai dan kurang persiapan. Biasanya kalau mau jalan-jalan, saking 'excited'-nya, aku searching sana-sini, alamatnya dimana, naik transportasi apa, makanan khasnya apa, oleh-olehnya apa, anything about the place. But, kali ini berbeda.. sangat berbeda. Tak ada persiapan yang benar-benar siap, males searching karena aku di sibukkan dengan notifikasi Whatsapp yang bejibun, ngurusin ini itu. (Appppaaaah?? kamu tidak disibukkan oleh tesis mu??? Tesis nanti dulu lah yaaaa.. hehe )


25-26 Desember 2013
Kuliah Lapangan Albiona (Alumni BIologi Universitas Andalas)

Sebelum hari H, aku diminta nge-list nama teman-teman angkatanku yang ingin ikut acara ini. Oya, ketika diminta untuk nge-list oleh sang dosen itu, hari itu aku disibukkan dengan rasa deg-degan... Ceritanya mau jadi moderator sebuah acara Rohis di FMIPA UI. Luar Biasa memang kejutan Allah... Dulu ketika mengikuti salah satu seminar, sempat terfikir olehku... 'aku juga ingin berbicara di depan panggung itu'.. Dan Taraaaa... aku ditawari untuk menjadi sebuah acara yang luar biasa pada tanggal 18 Desember 2013... MODERATOR... How nice isn't it? 

hm... pengalaman jadi moderator, diselipkan di sini saja ya... Karena tidak begitu banyak yang bisa di share.
Eh, tapi lumayan banyak juga siih.. hehe. yasud. moment ini akan ada di next posting... ^_^ ^_^

Back to my journey...
H-1 menuju cibubur (tempat pertemuan KL Albiona).
Agak kesal juga sih, teman-teman pada pengen ikutan, tapi tidak mau share itu daerahnya dimana, acaranya nanti bagaimana (secara aku sibuk dengan urusan laboratorium dan beberapa hal yang musti ku urus dan aku tidak bergabung dengan page-page yang menginformasikan tentang KL tersebut). Malamnya akhirnya agak ku'paksa' sang teman mencari tahu, dimana daerah persisnya, acaranya jam berapa dan apa saja yang akan dilakukan nanti. Sempat menjadi tidak enak hati dan greget, melihat sebuah ketidak-sigapan untuk orang ramai. Tapi sudahlah, maafkan... dan kembali tersenyum. 

Kabarnya acara akan dimulai pukul 16.00 dan 13.00-15.30 ada registrasi peserta terlebih dahulu. Paginya semua masih pada males-malesan. Aku sibuk packing (karena malamnya, di saat yang lain packing, aku sibuk dengan WA-ku yang heboh). Sempat bingung, mo pakai baju apa, mo bawa apa karena cucianku sudah menumpuk sekali (efek sibuk tak menentu, jadwal berantakan, manage waktu jadi 'haw-haw').

Setelah habis zuhur, kita shalat dan mulai berangkat. Kebiasaan kalau dengan rombongan kali ini, kalau berjanji jarang ontime.. hahay. Tapi kita sudah paham satu sama lain, jadi ini bukan menjadi sesuatu yang 'menjengkelkan' lagi.

Keluar dari kosan, tunggu para cowok makan siang dulu, beramai-ramai nunggu busway menuju kampung melayu, sesampainya di kampung melayu, ngantri busway tujuan kampung rambutan. Sebenarnya banyak duka nya kalau naik busway. Antrian panjang, panas, dan kadang ketika mau melangkahkan kaki masuk menuju busway, di cegat oleh petugas karena busway kepenuhan dan lain sebagainya. Nah kali ini ketika mau masuk transportasi yang 'rame peminat' itu, kita dicegat oleh salah satu penumpang yang ragu temannya yang lain bisa masuk atau tidak... Dan saat si 'pemuda labil' itu memutuskan untuk keluar, kita masuk pantang menyerah dan membuka ruang agar kita semua bisa masuk.. Kita yang cewek-cewek, masuk langsung ke ruang kosong di tengah, memperkecil diri, sempit-sempitan biar teman kita yang cowok-cowok bisa masuk. Woeess kereeen, akhirnya walau 2 orang teman cowok kita berbadan besar, mereka akhirnya bisa masuk.. Tepuk tangan saudara-saudara... Suatu kebanggaan bagi kami untuk mengaplikasikan 'ilmu tata tertib naik bis kampus'. Dulu waktu di UNAND, naik bis kampus desak-desakan. Ada beberapa orang mahasiswa yang males banget masuk ke tengah, padahal kasihan yang ga bisa naik, karena kepenuhan di dekat pintu. Mereka kebanyakan males ke tengah, karena susah turun, mahasiswa lain kadang suka ga ngeh juga memberi jalan bagi yang mau turun. Nah beberapa mahasiswa yang males ke tengah ini, sering di tegur, kena marah sama pak sopirnya.. Hm.. salah satu kenangan manis tentang 'bis kampus' malam ini... ^_^ ^_^

Sesampainya di kampung rambutan, kita naik angkot menuju, bumi perkemahan.. Dan eng ing eng.. mulailah Kuliah Lapangan itu.. dari gerbang buper, kita beramai-ramai jalan kaki ke perkemahan Albiona. Lumayan jauh... Tapi kita menikmati, bercerita tentang keseharian, guyonan-guyonan yang tak ada habisnya. Dan mendekati perkemahan Albiona... MasyaAllah.. indahnya alam Engkau... nge-'klik'dulu ah... Jom tengok foto ai.. Seronok sangat pemandangannya.. 

Hijauuuu... dan lepas mata memandang.. :D

Well... setelah agak jauh berjalan, akhirnya sampai di perkemahan, dan kita menemukan orang-orang yang sudah sukses di sana, senior-senior yang benar-benar sudah senior. Angkatan 60-an, 70-an, 80-an... Kita yang termuda euy... Angkatan 2005... Jadilah kita orang-orang yang tersorot saat itu. Kuliah lapangan kali ini, juga dihadiri oleh dosen-dosen luar biasa kita dulu... Masih bersemangat walau sudah berumur.

Malamnya, karena tujuanku ke sini adalah untuk refreshing, aku benar-benar menikmatinya, berusaha melupakan segala permasalahan untuk sementara. Joged sampai pagi, bernyanyi bergembira bersama orang-orang yang luar biasa... BAGAMAIK... Nice... :)

Paginya sebenarnya ada acara kuliah lapangan, tapi berhubung asistennya berhalangan hadir dan semua juga udah pada tepar (bagamaik sampai jam 4 pagi), salah satu senior yang menjadi panitia berangsur-angsur membenahi tempat perkemahan. Kuliah lapangannya ga jadi.. hahay... Ending acara, peserta bubar satu persatu dengan mobil dan keluarganya, dan sisa makanan yang tak habis, dibagikan ke kita-kita yang anak kosan. 

Awalnya ditawari nebeng naik mobil, antar jemput sampai gerbang buper, tapi kita memilih untuk jalan kaki saja. Jalan kaki, menikmati kebersamaan dengan teman-teman 2005. GOLEKS, Golgi Kompleks... Bersama mereka kutemukan selalu keceriaan-keceriaan dan suka duka yang LUAR BIASA!!! Love You Guys.. :) :)

Golongan 0 Lima Biologi (G0LGI)

Pulang dengan wajah ceria dan diamanati untuk menjadi 'penggerak' untuk pertemuan Albiona tahun depan.

Sesampainya di kosan, semua pada tepar. Tapi aku tidak.. Bersih-bersih, mencuci, mandi, dan baru tertidur lelap. Malamnya kembali nyantai. 

Keesokan paginya, Next Trip...

27-28 Desember 2013
Aku sudah punya planing untuk jalan-jalan ke situ gunung bersama sepupu dan teman-teman kantornya. Perjalanan kali ini tergolong lancar, tak ada kendala yang begitu berarti. Paginya, setelah subuh, aku mulai packing. Perjalanan yang hanya membutuhkan waktu 2 hari 1 malam itu tidak memerlukan packing-an yang lengkap. Cukup beberapa pakaian ganti, sleeping bag, dan embel2 kecil-kecil lainnya. Bahkan odol dan sabun pun, aku sengajakan untuk tidak membawa dari kosan. 

Janjiannya jam 11 kita ketemu di stasiun bogor. Biar bisa makan bareng sebelum berangkat. Udah nyampai manggarai sekitar jam 9-an. Setengah jam berdiri di stasiun manggarai, tidak kunjung datang kereta menuju bogor. Setengah 10, terdengar kabar kalau ada masalah di stasiun gambir, salah satu restoran cepat saji terbakar, sehingga mengganggu jalannya kereta. Aku mengabari sepupuku, kereta ke Bogor tersendat di Juanda. Ia menjawab 'naik kereta dari tanah abang saja'. Otakku salah menterjemahkan kalimat itu. Aku kira aku naik dari tanah abang saja, dan alhasil aku menaiki kereta yang menuju tanah abang. 

Tet tooooot, otakku lemot. Sesampainya di kereta, aku melihat rute perjalanan kereta, ternyata semua kereta ke bogor baik itu dari kota maupun dari tanah abang, melewati manggarai. Trus ngapain aku ke tanah abang??? Eng ing eng,,, nyadarnya lama banget. hahay,  langsung ambil keputusan untuk turun di next stasiun, Sudirman. Di stasiun sudirman, ketika aku menaiki tangga untuk menyebrang, terdengar pengumuman kalau kereta ke bogor akan memasuki stasiun tersebut. Aku berlari menuruni tangga, dan tak lama kemudian keretanya datang. Alhamdulillah.. dapat kereta dan bisa duduk sampai ke bogor. 

Sesampainya di bogor, aku ketemuan dengan sepupuku, sambil menunggu teman-temannya datang. Tunggu.. tunggu.. tunggu.. mereka tak kunjung datang. Di telp, ternyata masih pada di kalibata. Ya sudahlah, kita makan duluan. Makan di dekat mesjid dekat stasiun kereta ke sukabumi. Yang namanya cowok, makan itu porsinya banyak dan cepat ligat, sementara aku masih berusaha menghabiskan nasi di piringku. Sudah mendekati waktu zuhur, saatnya para lelaki menunaikan ibadah shalat jumat, aku ditinggal di warung nasi sendirian, sementara sepupuku shalat jumat di mesjid terdekat. 

12.45 jadwal kereta 'pangrango' menuju sukabumi. Tapi ketika kereta sudah datang, para teman kantor sepupuku belum juga datang. Kita akhirnya nego dengan petugas kereta untuk nungguin. Petugasnya mau. Tapi telatnya kelamaan. Ditunggu ditunggu, ga datang juga. Ditinggal deh... Tiket 15.000 rupiah masing-masingnya, hangus cuy,,, Jadi teringat waktu aku ketinggalan pesawat... ckckck...  

Enaknya naik kereta itu, bisa menikmati alam. Cuaca cerah banget, langitnya biru.. Subhanallah.. Maha Suci Engkau dengan segala ciptaan Engkau Ya Rabb... Indahnyaaaaa...

Protret pemandangan indah di balik jendela kereta api yang retak :D
Turun kereta di stasiun Cisaat (ide ini diberikan oleh salah satu penumpang di kereta). Kalau mau ke situ gunung, bagusnya turun di Cisaat, lebih dekat. Dan sepertinya kereta api masih sesuatu yang 'WOW' di Cisaat ini. Terletak di antara perumahan, bukan di jalan raya. Kita berjalan kaki menuju jalan raya, dan naik angkot menuju Situ Gunung. Tak ada ruginya... Pemandangannya LUAR BIASA!!! Udaranya juga Suegeeeer... 

Di gerbang tempat wisata Situ Gunung, kita berbincang-bincang dengan petugasnya, mencari tempat shalat dan tanya-tanya tempat penginapan. Ternyata di sana menyewakan tenda juga. Rp. 100.000,- semalam. Awalnya aku pengen banget nginap di tenda, tapi si temannya sepupuku, sepertinya lebih memilih nginap di penginapan. Dan akhirnya kita menemukan penginapan yang pas. Rp 200.000,- semalam, kamar mandi dalam, kasurnya dua buah, kamarnya bersih dan gedeeee. Kita putuskan untuk menginap di sini. 

Sambil menunggu teman-teman kantor sepupuku kita berjalan ke bawah, melihat pemukiman penduduk, beli makanan. Ga nyesel dah.. Benar-benar ga nyesel ke Situ Gunung. Pemandangannya memanjakan mata banget. 

Malam hari pun tak kalah indahnya. Untungnya cuaca sedang cerah, jadi bisa menyaksikan bintang-bintang bertebaran di langit. Hatinya jadi adeeeeem banget.. ^_^ ^_^

Malam semakin dingin. jam 9 malam-an, teman-teman kantor sepupuku baru nyampe, kita makan, sedikit berbincang-bincang dan tiduuuuuur... ZZzzzZZzzZzZzzzz.....

Paginya, selesai subuh, kita mulai berjalan menyusuri jalan setapak ditemani udara yang sangat bersahabat. 

Menuju Situ Gunung, jalannya nyantai. Yang lain pada ngobrolin teman-teman kantornya (ga nyambung mo ngobrol apa) dan aku menikmati alam yang super indah... Ga mau ketinggalan setiap detail pemandangan ini. Sesampai di Situ Gunung, agak telat sih, maunya ke Situ Gunungnya lebih awal, biar masih ada awan-awan kecil di atas danaunya. Tapi...

ALLAHU AKBAR!!!
Maha Besar Allah dengan ciptaanNya yang MAHA DAHSYAT itu. Danaunya cantik luar biasa!!! Hijaaaaau... Indaaaaaah... 

Danau Situ Gunung di saat matahari mulai terbit ^_^ ^_^

Puas dengan pemandangannya, kita menuju tujuan selanjutnya. Curug Sawer...
Teman-teman terus ngobrol, ga ada hentinya. Adaaaa aja yang diomongin. Tapi ada untungnya juga, aku jadi bisa menikmati alam sepuasku. Tak perlu mencari bahan obrolan, biarkan mereka sibuk dengan urursan kantor mereka. hahay..

Perjalanan menuju Curug Sawer, benar-benar menguji adrenalin. Naik turun, naik turun, Pegel kakinya, nafasnya ngos-ngosan, mana lapar (kebiasaan sarapan). Untungnya bawa air minum, jadi ada penunda lapar sesaat. Air terjunnya tidak begitu.. hm.. apa ya??? tidak begitu indah.. hm.. indah sih.. seger, airnya jernih, bersih. Tapi aku sudah terbiasa melihat air terjun, jadi tidak begitu 'Wow' ketika melihat si curug-nya. Tapi yang benar-benar berkesan itu adalah perjalanan menuju curugnya... Waaaah.. pegel tapi asyik euy... :D


Tak hanya cinta saja yang bikin jantung berdebar-debar kencang, 
perjalanan menuju curug sawer pun tak kalah bikin jantung berdebar-debar..
Panek.. haha.. 
Tapi bedanya, cinta debarannya bikin lelah, 
kalau yang ini debarannya mengasyikkan,  
I am enjoy with that.. ^_^ ^_^


Ternyata perjalanan terlalu mulus pun, kurang mengasyikkan, tapi tidak mengecewakan lah perjalanan kali ini. Aku sangat terpesona dengan keindahan alamnya. Kita pulang, di angkot, aku dan salah satu teman kantor sepupuku tertidur pulas. Tungguin jadwal keberangkatan kereta, berbincang-bincang dengan salah satu pemilik warung dekat stasiun. "Saya sudah 20 tahun di sini, kadang suka ada yang datang, udah punya anak, bilang gini 'bu, dulu saya pernah singgah disini sebelum ke situ gunung'" Hahay, 20 tahun menjalani pekerjaan yang sama. Itu sebuah keajaiban bagiku. Dan beberapa orang mengingat kehadiran beliau di stasiun Cisaat. 

DONE!!! Perjalananku kali ini, walau tanpa persiapan yang matang, tapi hasilnya HEBAT!!! Hati sedikit melunak, dan semoga bisa kembali fokus dengan target-target kampus. Aamiin Ya Rahiim..

SEMANGAT!!! *walau badannya masih pegel-pegel.. hehe 






Thursday, 12 December 2013

Catatanku di 11-12-13


Angka cantik yang penuh makna.
Kemaren bersemangat sekali, karena ada tiket murah dan dalam minggu ini tidak bisa kerja untuk penelitian. Untuk hari kemaren, alhamdulillah sangat luar biasa, saking semangatnya sampai jam 12 malam pun masih nyetrika baju-baju yang telah menumpuk setelah sekian lama. Selesai menyetrika, sedikit packing dan bersiap-siap untuk tidur, tidak lupa setting alarm handphone.

Paginya... Jeng Jeeeng...
Alarm sudah berbunyi berkali-kali, eits jangan salah, aku bangun kok. Bangun jam 04.30 WIB. Shalat, mandi, berangkat. Berangkat pukul 05.30 WIB. Ancang-ancangnya sih sebenarnya bener ya, tapi transportasi dan pengmabilan keputusan pagi ini yang membuat suatu musibah menyedihkan. Aku memutuskan sambil nunggu taksi terus berjalan menuju shelter busway. Sesampai di lampu merah, baru nongol taksinya, entah mengapa pikiranku menjadi santai sekali. Karena perjalanan menuju shelter terlihat dekat, aku putuskan untuk naik busway. Sesampainya di shelter baru teringat, busway menuju senen itu susahnya minta ampun. Akhirnya diputuskan naik busway tujuan harmoni.

Taraaaa... salah prediksi lagi. Aku kira sesampai di harmoni, bisa langsung menuju gambir, ternyata harus mengantri dulu di antrian busway menuju pulo gadung. Antriannya panjaaaaaaaang... Tapi aku berada di antrian depan. Jadi ketika buswaynya muncul, aku pasti bisa masuk. Tapi oh tetapi, buswaynya tidak kunjung datang. Aku mulai panik. 06.15 aku putuskan untuk keluar dari antrian, dan memilih naik taksi dari harmoni menuju gambir. Sesuatu...

Sesampainya di gambir, satu hal lagi yang membuatku menjadi ‘kacau balau’. Damri menuju bandara soeta, sesampainya aku disana baru saja berangkat, dan aku menyaksikannya dengan mata kepala ku sendiri. Tapi jarakku tidak memungkinkan untuk berteriak “TUNGGUUUUUUUUUUUU”... hatiku hanya bisa menjerit... Ya Allah...

Next Damri... Aku masih santai saja.. karena aku kira check in bisa dilakukan 15 menit sebelum perjalanan. Agak panik juga sih sebenarnya. Aku sempat mencoba check in lewat web, melihat Damri yang kutumpangi malah ke terminal 3 dulu, baru kemudian ke terminal 1. Tapi oh tetapi... Tidak bisa... T-T

Pesawatku 07.35 WIB, aku sampai di terminal 1C 07.20 WIB. Dan ketika aku check in, tidak ada izin di sana. Katanya pesawatnya sudah terbang, check in-nya sudah ditutup, aku berusaha membujuk petugasnya agar mengizinkanku untuk check in, karena aku yakin pesawatnya belum terbang. NIHIL!!!

Sedih...

Aku kembali keluar gedung, mencoba searching tiket online, ribet. Akhirnya kuputuskan untuk langsung ke counternya. Lion air, aku harus berjalan dari terminal 1C ke terminal 1B dan hasilnya, penuh untuk perjalanan berikutnya, perjalanan malam pun harganya sudah melambung 900-an. Aku beralih ke sriwijaya. Sriwijaya hanya ada keberangkatan sore, ketika ditanya harga sudah 1 juta-an. Bingung. Aku memutuskan tidak mengambil tiket tersebut. Aku keluar, tiba-tiba ada yang mengikuti. Bapak-bapak dengan kostum batik yang rapi sekali. Sebelumnya beliau duduk di sebelahku. Menawarkan tiket perjalanan jam 10 dengan sriwijaya air dan mematok harga satu juta.. Et dah... “mahal banget pak”.. “iya yang sore nanti aja satu jutaan, mba”... “terima kasih pak, saya coba cari yang lain aja”... Untungnya si bapak tidak terlalu agresif menawarkan... Dan aku pun juga memasang tampang tidak terlalu butuh tiket tersebut. Jadi dia menyerah dan balik kanan. Aku curiga, ada kerjasama dengan para petugas ticketing disana.. ckckck...

Oya, ketika menghampiri counter lion air yang pertama, aku masih bingung dan masih mondar mandir disana, belum sempat tanya-tanya. Balik lagi ke lion air, rame, dan aku juga di ikuti calo. Calonya lumayan agresif... Akhirnya aku putuskan untuk mengeluarkan kata-kata tegas ke si calo..
“di sana juga pada penuh tiketnya mba, kesaya aja”
“kemana emangnya mas?”
“saya punya tiket ke palembang”
“maaf mas, tujuan saya bukan ke palembang”

Si-masnya berhenti berjalan, dan aku terus maju jalan entah kemana.

Untung saja, pas tanya-tanya ke petugas ticketing, pada rame, dan suara ku kecil, jadi para calo menerka-nerka tujuanku kemana. Hadeeeh... Ada-ada saja cara orang mencari uang ya?!

Aku bingung, sedih, campur baur. Akhirnya kuputuskan untuk shalat dhuha. Menenangkan diri sambil mencoba searching lagi, tiket mana yang murah dan bagaimana aku menyelesaikan permasalahan ini.

Selesai shalat dhuha, aku kembali searching. Bingung. Tapi kemudian aku coba melangkahkan kaki mencari tiket, dan akhirnya aku putuskan ke counter citilink. Back to Terminal 1C!!! Tanya-tanya sama petugasnya. ADA!!! Jam 6 sore-an, seharga 700-an. Yaah... apa boleh 'baut'. Ini pilihan satu-satunya dan hanya ini yang tersisa. Tiket paling murah. Booking, kemudian cari ATM yang harus menaiki tangga, ambil uang, dan bayar.

Lapar, belum sarapan. Aku akhirnya makan di salah satu tempat makan.. Hm kalau ga salah ‘ The Kingkong’... Makan sambil ngecharge. Sambil menggembirakan hati, sambil mencari solusi. Bilangnya ke mama nanti gimana...

Hm... setelah bekerja sama dengan kakak dan adikku, aku putuskan untuk menginap di Padang seolah aku masih menggunakan pesawat yang pertama. Semoga beliau tidak tahu. Semoga dan semoga rezeki beliau berlimpah ruah,, Ya Rabb.. tolong jaga rahasiaku...

*catatanku sambil menunggu penerbangan jam 6 sore.. Bismillah...

Bagi yang kenal fb, kenal aku, kenal keluargaku, please keep silent ya... hehe.. mama belum tau nih ceritanya. Aku ga bohong, tapi berusaha mengelakkan pertanyaan beliau. Semoga rezekiku juga banyak jadi tidak terlalu merasa bersalah, membuang tiket begitu saja... Astaghfirullah...

11 12 13 at 14.51 di depan Dunkin Donut’s Bandara Soekarno Hatta Terminal 1C

Sekian. Ckckck...