Gata tangan amak nio ngetak ngetik.
Tiba2 kepikiran, jual mainan anak itu tidak selalu menguntungkan, tidak selalu membuat anak-anak tersenyum atau bahagia.
Kenapa tiba2 jadi menulis begini?
Karena jadi penjual mainan anak2 pasti ada kalanya melihat anak2 menangis meronta2 minta dibeliin mainan, sementara emak bapaknya ga mau beliin mainan.
Karena jadi penjual mainan itu, membuat anak2 tersiksa setiap melihat yang baru, bosan dengan yang lama, akhirnya si penjual melihat ekspresi 'mupeng' anak2 yang begitu memelas.
Sedangkan di sisi lain, menjadi emak bapak harus kuat 'iman'. Harus kuat tenaga lahir batin buat 'seret2' anak yang ga bisa move On liat toko mainan..
Emak bapak harus bermuka tebal, jikalau anak berontak, jikalau anak teriak2 minta mainan dengan segala cara.
Emak bapak harus punya seribu ide untuk bujuk anak melepaskan pandangan mata dari toko mainan, punya seribu taktik agar ga ketemu toko mainan.
'pelit amat ga mau beliin mainan buat anak'
Emak bapak harus tahan kuping panas dengar omongan begini.
Bukannya tidak mau beliin, setiap anak liat yang baru yang modelnya beda, pasti kepengen punya. Nah, apakah anda sebagai orang tua mau memberikan setiap keinginan anak? Contoh saja, setiap 5 meter ada toko mainan, setiap lewat toko mainan, si anak minta mainan baru, kantong emak bapak harus lebaaaaaaaar biar bisa beliin mainan setiap saat.
Tapi bukan masalah ada atau tidak nya harta untuk beli mainan juga. Ini masalah didikan. Anak terlalu dimanja, makin susah ngedidik pas gedenya nanti. Semena2!
Ah ini ngelanturnya kemana2.
Sudahlah.. Emak lelah hari ini.. 😅
Thursday, 27 September 2018
Saturday, 25 November 2017
Anak pertamaku Tuna Rungu
Ah... Terkadang ketika berada di antara para orang tua dari anak-anak berkebutuhan khusus, nyaliku serasa menciut. Mereka begitu super sabar dan ekstra gigih mendidik anak mereka. Sementara aku? Melihat Zian lari sana lari sini ga bisa tenang dan ga bisa ditegur karena ga bisa mendengar, aku kadang meluapkan kemarahanku kepada si kecil yang belum tahu apa-apa. Setelah marah, sediiiiih sekali rasanya, perasaan menyesal yang begitu mendalam. Manalan aia mato. Hiks. Mendadak blog ku untuk beberapa hari atau bulan ke depan sepertinya akan sedikit melow, bukan seperti kisah lainnya yang kadang memang menyedihkan, tapi masih bisa dibuat lucu-lucuan atau ending berupa semangat membara.
Ah... Keluh kesah memang tak akan menyelesaikan masalah, tapi memang aku bukanlah termasuk seorang ibu yang super seperti ibu2 lainnya yang mempunyai anak berkebutuhan khusus. Di kala banyak yang menganggap ibu dengan anak berkebutuhan khusus itu adalah ibu yang istimewa, tapi aku malah merasa aku tidak seperti mereka. Sabarku tidak tinggi seperti mereka, gigihku tidak seperti mereka. Aku lemah. Aku tak berdaya dengan kondisi tubuh yang memang sedang naik turun kadar hormon. Berpacu dengan lelahnya kehamilan kedua, aku seolah dikejar oleh sesuatu yang sebenarnya berjalan di tempat, hanya aku yang berdiri di tempat atau mengalami kemunduran tingkat kesabaran?
Tulisan ini bersambung hari demi hari...
Anak kedua pun alhamdulillah sudah lahir ke dunia. Kelelahan ternyata tidak sampai di situ. Kelelahan berlanjut. Ah nak.. Maafkan ummi. Berkali-kali, andai Zian bisa mendengar dan mengerti apa yang ummi ceritakan, apa yang ummi kisahkan, maafkan ummi nak.. Belum bisa mendidikmu dengan baik, belum bisa sabar menghadapimu, belum bisa mengajak bermain dengan sepuasnya. Masa kecilmu seolah tergadai dengan ke-tuna runguan-mu dan dengan hadirnya adikmu, waktu ummi seolah berkurang untukmu nak...
Ah paragraf sebelumnya seolah tak mensyukuri. Astaghfirullah...
Rabb.. Allah pasti tidak akan sia-sia menganugrahkanku seorang anak yang Tuna Rungu. Kehamilanku ketika mengandung Zian juga sangat tidak menyusahkan.
Berkisah...
Setelah menikah, sebagai suami istri yang sudah 'berumur', aku yang ketika itu berumur 28 tahun dan suamiku 30 tahun, tidak menunda-nunda jika Allah mengamanahkan kami seorang anak. Alhamdulillah disegerakan olehNya. Sebulan setelah menikah, aku cek kehamilan. Alhamdulillah sudah ada janin di dalam rahimku. Cek kehamilan karena ketika itu aku panas tinggi. Kata beberapa orang, awal kehamilan memang ada yang ditandai oleh panas tingi tubuh.
Alhamdulillah, saat kehamilan, aku sangat menikmati. tidak ada beban. Kehamilan pun terasa ringan. Saking menikmatinya, seolah tak ada beban yang kubawa, saat hamil aku sering bepergian ke sana kemari. Bahkan ketika hamil 7 bulan, aku sempatkan ke Jakarta seorang diri, demi mengambil ijazah. Benar-benar di luar dugaan. Lingkungan pun tercengang melihat betapa beraninya aku bepergian di saat hamil dan alhamdulillah saat itu terlihat sehat wal'afiat. Periksa kehamilan tidak ada keluhan sama sekali. Cek USG pun kami merasa gembira ketika mengetahui anak pertama kami berjenis kelamin laki-laki. Semua sesuai dengan harapan.
Satu hal yang aku sempat takutkan ketika kehamilan Zian.. Virus Zika. Waktu Ziaan di dalam rahim, aku sangat berjaga-jaga dari nyamuk. Karena sangat booming ketika itu.
Semua sesuai dengan harapan. KElahiran Zian pun tergolong mudah kata 'mereka'. LIngkungan sekitar berkata, kehamilan pertama biasanya susah sekali melahirkan, bisa sampai berhari-hari merasakan kepayahan untuk dilahirkan. Alhamdulillah Zian lahir tidak begitu lama merasakan sakit. Jam 3 subuh flek, jam 8 pagi ke klinik dan sudah pembukaan 4, kemudian Zian lahir pukul 2 siang. Tak sampai bermalam di klinik untuk menunggu kelahiran. Bidan di sana pun seolah takjub dengan kelahiran pertamaku yang begitu mudah.
Zian disambut dengan hati riang. Zian saat bayi dibilang "elok laku". Tidur dengan tenangnya, tidak begitu banyak rewel.
Qadarullah... setelah 6 bulan, aku melihat keganjilan pada anakku.
Saat itu sedang hujan petir di Pekanbaru. Aku sangat takut jika melihat petir. Jadi, aku bawa Zian main ke kamar. Di kamar tidak terlihat kilatannya, tapi suara menggelegarnya tetap membuatku pucat pasi dan terus berucap 'Laa haula wala kuwwata illa billah'. Tapi... anakku terlihat begitu santai ketika ada suara menggelegar tersebut. Aku berusaha positif thinking, mungkin anakku kelak akan menjadi seorang yang pemberani. Kelak kalau sudah besar, dia akan memelukku ketika aku takut akan suara petir. Begitu seterusnya. Ketika hujan dan petir, Zian tidak pernah memperlihatkan ekspresi apa-apa, tetap ceria.
Aku mulai curiga, dan ketika baca-baca artikel tentang perkembangan anak, aku sampai di pembahasan "pendengaran". Aku bicarakan hal ini pada suami. Tapi suami seolah tak percaya. Selalu memanggil Zian dan memaksa berharap Zian menoleh ketika dipanggil. Memaksa berharap Zian merespon ketika diberi bunyi-bunyian. Suamiku bersikeras untuk tidak melakukan pemeriksaan apa-apa. Beliau masih menganggap Zian normal.
Pulang kampung, akhirnya aku beranikan diri periksa Zian ke THT tanpa persetujuan suami. Ketika di THT Bukittinggi, Zian memang tidak respon ketika diberi teoukan tangan di belakangnya. Dokter THT pun memerikan surat rujukan ke Rumah Sakit, untuk selanjutnya diberikan tes BERA. Aku tidak mengerti apa itu tes BERA.
Searching..Searching..
Mengetahui biaya tes BERA tidak semurah yang kuduga, akhirnya aku berkomunikasi kembali dengan suami. Minta pendapat beliau. Balik ke Pekanbaru, suami pun melunak. Setelah ia coba memanggil Zian berulang kali, dengan tepukan tangan, berteriak, dengan menepuk lantai, akhirnya beliau pasrah. Awalnya aku bingung mau membawa Zian ke bagian apa. Sempat searching-searching dokter anak, rumah sakit ibu dan anak. tapi entah kenap tiba-tiba pikiran langsung ke arah rumah sakit Awal Bros.Katanya di sana rumah sakitnya bagus dan lengkap. Langsung saja periksa Zian ke sana.
Rame euy. Di rumah sakit selalu antrian sepertinya. Alhamdulillah waktu periksa Ziaan pakai antrian 'pribadi' bukan BPJS. Karena kami memang tidak pernah mau mengurus BPJS. Kabarnya jika menggunakan BPJS, palayanan jadi lama dan tidak bagus. Benar memang. Seramai apapun antrian, ternyata kami diutamakan, Di temani oleh perawat kemana-mana. Alhamdulillah ya. Selama umurku memang aku sangat jarang sekali ke rumah sakit, jadi ketika bawa Zian agak linglung, bagaimana cara mendaftarnya, habis ini harus kemana. Untungnya saat itu benar-benar diarahkan dengan sangat baik oleh perawatnya.
Zian akhirnya melewati 3 tes pendengaran. Sebelum di tes, Zian harus dibius terlebih dahulu. Melihat Zian tertidur dan dipasangi kabel-kabel, aku berusaha santai, berusaha santai, berusaha santai, berusaha kuat. Tapi siapa yang tahu, hati ini remuk redam melihat bayiku sekecil itu sudah dipasangi kabel-kabel.
3 tes pendengaran; OAE, BERA dan ASSR.
Hasilnya, Zian Tuna Rungu 98 dB kanan dan kiri.
Ketika konsultasi dengan dokter, ekspresiku datar, seperti tidak terjadi apa-apa. Tapi dalam sujudku, dalam kesendirianku, ah.. air mata menggucur begitu deras... (ternyata setelah cerita-cerita dengan suami, pak suami juga begitu. Beliau menangis dalam kesendiriannya.) Sedih... Kami bukan menangisi kisah kami. Tapi sedih anak pertamaku tidak bisa mendengar, menangisi nasibnya yang masih kecil tapi sudah mengemban tugas yang berat.
Lingkungan menyalahkanku. Saat tes pendengaran Zian, sekalian aku cek kehamilan, tes TORCH (ini salah satu penyebab tuna rungu-nya anakku). Dan memang benar, hasil tes TORCH, igG rubela dan CMV positif dan igM nya semua negatif. Semua tes dilakukan dengan biaya yang tidak sedikit. Biaya tes Zian sejutaan lebih, plus tes TORCH juga sejutaan lebih, plus cek kehamilan ratusan ribu. Dalam satu hari sudah menghabiskan uang berjuta-juta... Alhamdulillah ketika itu masih ada tabungan.
Kemudian dokter menyarankan Zian beli alat bantu dengar di salah satu HC (Hearing Center). Sebelumnya aku sudah searching-searching apa penanganan untuk anak tuna rungu. Dokter juga menyarankan untuk gabung di grup 'Dunia Tak Lagi Sunyi' di facebook. Karena sudah searching sebelumnya, dari Rumah Sakit, kami langsungke HC yang disarankan.
Tapi sempat kaget juga ketika sudah di HC, ternyata harga alat bantu dengar untuk Zian luar biasa mahalnya. Harga 1 motor kami dan lebih dari itu. 25 juta sepasang. Suami sempat tercenung saat kami mengambil uang untuk DP di ATM terdekat. Beliau takut tertipu. Apakah memang benar harganya sedemikian mahalnya. Sempat lama membahas ini di mobil. Dan CS tempat HC pun menelfon berkali-kali karena mereka akan tutup, padahal aku menjanjikan DP kepada mereka. Sudah sangat sore waktu itu.
Akhirnya diputuskan segara. Dengan membaca Bismillah, semoga kita tidak tertipu, kami DP ABD saat itu juga.
Ntahlah.. dalam perjalanan pulang, kami sibuk dengan pemikiran masing-masing. Diam.. Senyap... beberapa hari, walau masih ada tawa dalam rumah kontrakan kami, tapi ada duka di balik hati orang tua si kecil ini.
Perjalanan Zian akan menjadi lebih panjang, dimulai saat ini...
*Bersambung
Friday, 24 November 2017
Ibu ber'bayi' DUA
Alhamdulillah.. telah diberi amanah oleh Allah sepasang bocah lucu. Semoga mereka bisa jadi ladang pahala bagi insan yang lemah ini.
Perkenalkan nama anakku:
MUHAMMAD ZIAN
dan
ZAHRA SYAFIQAH
Mereka terpaut usia yang tidak begitu jauh. Banyak pernyataan dari orang sekitar yang menduga bahwa Zahra lahir 'kagetan' (tidak direncanakan), karena begitu dekatnya usia mereka. Zian 21 bulan, dan Zahra 1 bulan. Sebenarnya mereka terlahir dengan 'kepasrahan' kami. Diberi alhamdulillah, tidak juga berarti belum rezeki. Tidak ada yang namanya lahir 'kagetan'.
Dan memang menjadi ibu dari DUA bayi ini suatu hal yang memang luar biasa. Banyak momen yang kadang bikin jengkel, emosi mebludak, tapi kadang melihat mereka bisa tertawa bersamaku rasa bersalah datang menghampiri.
'Maafkan ummi, nak. Belum bisa menjadi ibu yang baik bagi kalian. Belum bisa menjadi ibu yang kuat bagi kalian. Belum bisa memberikan waktu full untuk kalian. Terbagi-bagi antara Zian dan Zahra diselingi mencuci dan beres-beres rumah'
Mungkin ada manfaatnya Zian menjadi seorang Tuna Rungu. Perhatian jadi tidak hilang begitu saja ketika adiknya lahir. Melihat pengalaman salah satu keluarga, dimana anaknya yang pertama jadi kehilangan perhatian sama sekali dari ibunya setelah adiknya lahir, dikarenakan si ibu kerempongan mengasuh adiknya sambil jualan juga.
Ah, dibalik kekurangan selalu ada kelebihan. InsyaAllah.
Kalau diingat, antara seru dan 'seru' memang mengasuh DUA bocah ini.Ketika tidur siang mereka yang rewel barengan, kamar menjadi penuh tangisan. Zian kalau mau tidur, mintanya di peluk, sementara Zahra musti ngASI. Ditaruh satu, nangis satu yang lainnya. bergantian, sampai mereka kelelahan dan akhirnya tertidur. Ummi pun bernafas lega dan ikut tertidur.
Punya anak itu harus 'setrong' (bahasanya anak zaman now). Bagaimana tidak. Di saat tubuh lelah mengasuh DUA bayi, saat mereka tidur, emaknya musti mengerjakan pekerjaan lain. Untungnya saat ini tinggal bersama nenek mereka, jadi masalah masak-memasak pending dulu dikarenakan memang tak sampai tangan menuju ke sana alias waktunya terkuras habis untuk mengasuh anak.
Zian belum mengerti yang namanya bahaya, kadang berjalan suka seruduk sana seruduk sini. Semua serba cepat bagi Zian. Apalagi kalau lagi rebutan mainan sama sepupunya. Melihat lincahnya tangannya bergerak, insyaAllah Zian ke depannya sudah bisa bela diri sendiri. Kalau ada yang jahat, ngusilin, Zian bisa jaga diri. Tapi ga enak juga lihat ada pertengkaran di antara mereka. Walau judulnya Zian mencoba membela dirinya.. Ah nak... Maafkan ummi belum punya waktu full untuk bermain denganmu. Tunggu Zahra besar sedikit lagi, kita mian bersama ya nak... Ke'seru'an berikutnya adalah antara menjaga Zian dan mengASIhi Zahra... Tak lepas mata menatap dan memperhatikan apa yang dilakukan Zian di luar kamar, sementara aku menyusui Zahra di kamar. Kalau terjadi pertengkaran, terpaksa sambil gendong Zahra melerai Zian dan sepupunya. Kalau Zian ngusilin sepupunya yang lebih kecil darinya, terpaksa seret2 Zian bilang 'ga boleh'.Zian musti dihampiri, karena belum sadar suara dan belum mengerti apa yang dibicarakan orang sekitar, musti pakai isyarat.
Ini baru ngurusuin DUA bayi. Belum ngurusin si Bapaknya bayi. Kadang juga merasa sangat bersalah luar biasa. Dulu suamiku kalau makan ya dimasakin, pulang kerja di sedian minuman, pakaiannya disediain. Sekarang kebanyakan perhatian sudah terbagi keDUA bayi dan sang Bapak Bayi pun terpaksa mengalah. Minimal kalau pulang kerja, menemukan suasana rumah yang tidak begitu rewel (tapi kebanyakan, tangisan pecah bertubi2 saat emak bapaknya pengen istirahat).. Plus, kita lagi kena ujian juga ini. Pasar Atas Bukittinggi terbakar. Jadi sekarang suami bawa-bawa dan angkat-angkat barang dari rumah ke toko yang membuat badan pegal-pegal. Hahay.. Semoga ini menjadi kenangan indah yang 'ingin terulang kembali' bagi kami bukan suatu beban.
Dan saat ini, di saat semua tidur, disitulah emaknya mereka ini bisa punya 'me time'. Bela-belain buat punya 'me time'. walau badan lelah, mata mengantuk.. itulah seorang ibu.
Jadi kepikiran.. Dulu pengen banget punya anak kembar.. Nah sekarang punya DUA bayi kewalahan. bagaimana dengan mereka yang punya bayi kembar ya? Bahkan kembarnya ada yang kembar 5? Allah tidak akan sia-sia.. Ia memberikan sesuai kemampuan hambaNYA...
InsyaAllah aku sanggup melalui ini semua... SEMANGAT!!! n_n
*Lain waktu akan coba sharing tentang Zian :)
Perkenalkan nama anakku:
MUHAMMAD ZIAN
dan
ZAHRA SYAFIQAH
Mereka terpaut usia yang tidak begitu jauh. Banyak pernyataan dari orang sekitar yang menduga bahwa Zahra lahir 'kagetan' (tidak direncanakan), karena begitu dekatnya usia mereka. Zian 21 bulan, dan Zahra 1 bulan. Sebenarnya mereka terlahir dengan 'kepasrahan' kami. Diberi alhamdulillah, tidak juga berarti belum rezeki. Tidak ada yang namanya lahir 'kagetan'.
Dan memang menjadi ibu dari DUA bayi ini suatu hal yang memang luar biasa. Banyak momen yang kadang bikin jengkel, emosi mebludak, tapi kadang melihat mereka bisa tertawa bersamaku rasa bersalah datang menghampiri.
'Maafkan ummi, nak. Belum bisa menjadi ibu yang baik bagi kalian. Belum bisa menjadi ibu yang kuat bagi kalian. Belum bisa memberikan waktu full untuk kalian. Terbagi-bagi antara Zian dan Zahra diselingi mencuci dan beres-beres rumah'
Mungkin ada manfaatnya Zian menjadi seorang Tuna Rungu. Perhatian jadi tidak hilang begitu saja ketika adiknya lahir. Melihat pengalaman salah satu keluarga, dimana anaknya yang pertama jadi kehilangan perhatian sama sekali dari ibunya setelah adiknya lahir, dikarenakan si ibu kerempongan mengasuh adiknya sambil jualan juga.
Ah, dibalik kekurangan selalu ada kelebihan. InsyaAllah.
Kalau diingat, antara seru dan 'seru' memang mengasuh DUA bocah ini.Ketika tidur siang mereka yang rewel barengan, kamar menjadi penuh tangisan. Zian kalau mau tidur, mintanya di peluk, sementara Zahra musti ngASI. Ditaruh satu, nangis satu yang lainnya. bergantian, sampai mereka kelelahan dan akhirnya tertidur. Ummi pun bernafas lega dan ikut tertidur.
Punya anak itu harus 'setrong' (bahasanya anak zaman now). Bagaimana tidak. Di saat tubuh lelah mengasuh DUA bayi, saat mereka tidur, emaknya musti mengerjakan pekerjaan lain. Untungnya saat ini tinggal bersama nenek mereka, jadi masalah masak-memasak pending dulu dikarenakan memang tak sampai tangan menuju ke sana alias waktunya terkuras habis untuk mengasuh anak.
Zian belum mengerti yang namanya bahaya, kadang berjalan suka seruduk sana seruduk sini. Semua serba cepat bagi Zian. Apalagi kalau lagi rebutan mainan sama sepupunya. Melihat lincahnya tangannya bergerak, insyaAllah Zian ke depannya sudah bisa bela diri sendiri. Kalau ada yang jahat, ngusilin, Zian bisa jaga diri. Tapi ga enak juga lihat ada pertengkaran di antara mereka. Walau judulnya Zian mencoba membela dirinya.. Ah nak... Maafkan ummi belum punya waktu full untuk bermain denganmu. Tunggu Zahra besar sedikit lagi, kita mian bersama ya nak... Ke'seru'an berikutnya adalah antara menjaga Zian dan mengASIhi Zahra... Tak lepas mata menatap dan memperhatikan apa yang dilakukan Zian di luar kamar, sementara aku menyusui Zahra di kamar. Kalau terjadi pertengkaran, terpaksa sambil gendong Zahra melerai Zian dan sepupunya. Kalau Zian ngusilin sepupunya yang lebih kecil darinya, terpaksa seret2 Zian bilang 'ga boleh'.Zian musti dihampiri, karena belum sadar suara dan belum mengerti apa yang dibicarakan orang sekitar, musti pakai isyarat.
Ini baru ngurusuin DUA bayi. Belum ngurusin si Bapaknya bayi. Kadang juga merasa sangat bersalah luar biasa. Dulu suamiku kalau makan ya dimasakin, pulang kerja di sedian minuman, pakaiannya disediain. Sekarang kebanyakan perhatian sudah terbagi keDUA bayi dan sang Bapak Bayi pun terpaksa mengalah. Minimal kalau pulang kerja, menemukan suasana rumah yang tidak begitu rewel (tapi kebanyakan, tangisan pecah bertubi2 saat emak bapaknya pengen istirahat).. Plus, kita lagi kena ujian juga ini. Pasar Atas Bukittinggi terbakar. Jadi sekarang suami bawa-bawa dan angkat-angkat barang dari rumah ke toko yang membuat badan pegal-pegal. Hahay.. Semoga ini menjadi kenangan indah yang 'ingin terulang kembali' bagi kami bukan suatu beban.
Dan saat ini, di saat semua tidur, disitulah emaknya mereka ini bisa punya 'me time'. Bela-belain buat punya 'me time'. walau badan lelah, mata mengantuk.. itulah seorang ibu.
Jadi kepikiran.. Dulu pengen banget punya anak kembar.. Nah sekarang punya DUA bayi kewalahan. bagaimana dengan mereka yang punya bayi kembar ya? Bahkan kembarnya ada yang kembar 5? Allah tidak akan sia-sia.. Ia memberikan sesuai kemampuan hambaNYA...
InsyaAllah aku sanggup melalui ini semua... SEMANGAT!!! n_n
*Lain waktu akan coba sharing tentang Zian :)
Saturday, 6 August 2016
Birokrasi, Ladangnya Korupsi!!!
MANGKA JANTUANG!!!
Hahay, maafkan aku teman-teman mungkin menulis agak emosi kali ini, setelah sekian lama selalu mencoba positive thinking.
Ini sudah rahasia umum, semua orang sudah tahu akan hal ini. Tapi kepada siapa kita hendak mengadu? Jika tempat mengadu pun melakukan hal yang sama. Tidak bermaksud sok suci atau munafik (kata-kata ini sering kali keluar dari mulut mereka), tapi mencoba 'meredakan emosi' lewat tulisan ini. Masih adakah petugas pemerintahan yang benar-benar murni mau membantu rakyat tanpa UUD (Ujung-Ujungnya Duit)?
Tulisan ini berawal dari pengurusan akte anak pertamaku. di sebuah klinik tempat aku melahirkan sang buah hati, Katanya bisa bantu membuatkan akte, dengan syarat surat keterangan lahir dan uang sebesar Rp 450.000,-. Ok, mengingat dan menimbang ribetnya pengurusan akte ini, karena pengurusannya di mulai dari RT, lanjut ke RW, lanjut ke kelurahan dan terakhir ke badan kependudukan, akhirnya kita menyerahkan surat keterangan lahir, fotokopi KTP aku dan suami plus fotokopi KK beserta uang. Awalnya tidak berniat untuk memasukkan nama anakku ke dalam KK karena mungkin kalau dia besar, kita akan berpindah tempat tinggal karena status rumah saat ini masih nyewa. Katanya sih bisa selesai dalam 2 minggu dan akan dikabari segera jika sudah selesai.
Lama menunggu, tapi tak kunjung dihubungi. Aku kira dengan uang, semua akan beres dalam sekejap. Ternyata tidak juga. Sudah terhitung 2 bulan sampai saat ini. Dan hari ini pihak klinik mengabari bahwasanya akte akan cepat selesai jika mengurus KK baru sekalian dan dikenakan biaya tambahan sebanyak Rp 100.000,-
Emosi mulai membludak, ini tak tik atau apa? Kemaren katanya bisa urus akte saja, tapi sekarang seolah 'dipaksa' untuk mengurus KK juga. Sebenarnya bagus sih kalau semua selesai segera, tapi takutnya nanti pindah rumah, urus KK baru lagi, biaya lagi. HAH!!! Birokrasi!!!
Jadi teringat ketika mengurus KTP dan KK baru. Kebetulan kenal dekat dengan pak RT. Beliau menawarkan diri untuk membantu membuatkan KTP-ku yang awalnya beralamat di Bukittinggi, sekarang menjadi di Pekanbaru. Awalnya senang ada yang bantuin, ternyata lagi lagi UUD, eKTP-ku plus KK ortu sudah dikasih ke si RT, beberapa hari kemudian malah minta uang, supaya cepat selesai. Ah, karena ini statusnya kenal dekat, yo wis lah percaya aja. Biaya awal sedikit, kemudian beberapa hari kemudian diminta uang lagi. Alhasil, pembuatan eKTP, KK baru melenyapkan tabungan suamiku senilai Rp 1.500.000,-
Yang tak masuk akal olehku sebenarnya adalah, kenapa dengan uang, tahap-tahap yang harus kita tempuh bisa diskip oleh si 'pembantu'? Kenapa kalau urus sendiri, musti melewati tahapan-tahapan yang begitu panjang?
Maghrib ini aku dongkol sedongkol-dongkolnya. Akhirnya cerita sama suami. Suamiku malah menambah emosi. Beliau malah bercerita tentang semua birokrasi yang tak jelas. Awalnya bahas tentang pembuatan sim.
Suamiku teringat akan proses pembuatan simnya yang melewati jalur normal. Biaya totalnya cuma Rp 165.000,- saja. Dan beliau bilang, biaya segitu terdiri diri biaya asuransi, map dan embel-embel administrasi lainnya. Kemudian beliau membandingkan dengan pembuatan sim yang bukan jalur normal, uang yang dibayarkan jauh lebih banyak. Kelebihan pembayaran tersebut adalah untuk oknum polisi yang membantu dalam proses pembuatan sim, tanpa tes dan tanpa antri.
Cerita makin panjang dengan membahas bagaimana tata cara masuk sekolah polisi. Beliau bercerita masuk polisi itu asal ada uang berjuta-juta, bisa lolos. Bagaimana dengan jalur normal yang tanpa sogokan? Bisa juga lolos, tapi kemungkinannya sangat tipis. Teman suamiku pernah mengikuti tes masuk polisi. Pada tes terakhir, lolos, namanya tertera di papan pengumuman kelulusan. Sudah sangat berbesar hati lolos dengan murni, tapi alangkah sedihnya, besok pagi dicek kembali nomor kelulusan di papan tersebut, RAIB!!! nomor kelulusan teman suamiku hilang begitu saja!!!
Mau mengadu pada siapa? Petugas pemerintahan bagian apa yang menerima pengaduan seperti kerugian tersebut?
Cerita makin seru dan membuat jantung makin menggebu-gebu untuk berdetak karena menahan amarah. Kasus bandar narkoba baru-baru ini. Fredy yang sudah dihukum mati. Lalu apakabar dengan para aparat yang terlibat dalam membantu pengedaran narkoba itu? Sempat jengkel bertubi-tubi ketika tahu tentang proses distribusi narkoba pernah dilakukan Fredy dengan menggunakan mobil TNI. WHAT THE HELL?!
Untuk meredakan rasa hati yang sudah remuk dikecewakan oleh sistem birokrasi, aku mencoba searching cara pengurusan KTP, akte dan KK dengan jalur normal. Memang agak ribet, proses yang berbelit-belit tapi katanya tidak bayar alias gratis 100%. Lalu aku secara tidak sengaja nyasar di salah satu Web. sepertinya Web tersebut untuk pelaporan hal-hal yang tidak sewajarnya. Pelapor melaporkan keluhannya ketika mengurus akte, dikenakan biaya Rp 500.000,- ke bagian kementerian di Web tersebut. Tahukah teman-teman apa jawaban mereka untuk menanggapi hal ini?
"Pembuatan akte, KTP dan KK tidak dipungut biaya apapun, jika terjadi pemungutan biaya, silahkan lapor pada pimpinan tertinggi di kantor tersebut"
owalaaaah.... Aku kira dengan melapor secara online akan ada kebijakan menegur langsung dari jabatan paling atas ke daerah yang dimaksud, tapi ternyata tidak. Mengecewakan sekali.
Lalu kepada siapa rakyat akan mengadu? Jika tempat mengadu itupun terkadang sudah ternoda dengan sikap tak acuh. ada uang, baru bergerak. Kepada siapa rakyat akan melapor? Jika tempat melapor itu pun sudah tak lagi mau melayani dengan hati, tapi melayani dengan uang.
Sesuatu sekali negeri ini!!!
Friday, 19 February 2016
Travelling Hamil 7 Bulan
Tidak menyangka semua tepat pada
waktunya, aku yakin ini adalah kemudahan dari Sang Khalik. Doaku Alhamdulillah
selalu dikabulkanNya. Di saat semua berlibur ke kampung halaman masing-masing,
aku yang dalam kondisi hamil 7 bulan, tidak berani mengambil langkah untuk
berlibur dan bersenang-senang dengan perjalanan yang jauh. Tapi situasi dan
keadaannya berbeda. Beberapa hari setelah mertuaku ke kampung halaman bersama
adik ipar dalam rangka nikahan sepupunya suamiku, di saat rumah sepi, aku
diberitahu oleh junior bahwa transkrip nilai sudah bisa diambil di kampus UI
Salemba.
Pas banget momentnya, aku segera
cek harga tiket dan tiket murah di minggu-minggu ini. Minggu-minggu liburan di
saat orang pulang kampung, aku malah memilih perjalanan ke kota, tentunya harga
tiket lebih murah dari biasanya. Aku merancang perjalananku ke Jakarta dari
Pekanbaru di dalam otak. Sepulangnya suami, setelah beliau isitirahat sejenak,
baru aku ajak diskusi, minta izin agar aku bisa ke Jakarta Minggu 27 Desember
2015.
Awalnya suami ragu dan sangat
bingung. Beliau terlihat sangat khawatir, bingung dan takut untuk melepasku.
Aku melarang beliau untuk ikut, karena perjalanan menjemput ijazah dalam
bayanganku akan sangat menguras tenaga, berkeliling-keliling di kampus. Belum
lagi sistem administrasi kampus yang kadang bertele-tele, takut kalau bawa
beliau akan tidak sabaran dan urusan jadi semakin lama.. hehe.. Dan pemikiran
selanjutnya adalah, jika suami tidak ikut, uangnya bisa dihemat untuk keperluan
lahiran nanti.
Alhamdulillah hasil bujukanku
mempan walau sebenarnya aku juga sempat tidak yakin dengan kondisi tubuhku dan
musti berjalan-jalan jauh. Di saat aku belajar meyakinkan diriku sendiri bahwa
aku mampu, aku juga berusaha untuk meyakinkan suamiku bahwa aku insyaAllah aman
berpergian jauh sendirian. Dilema memang sebenarnya. 2 hari sebelum
keberangkatan, kita sibuk dengan pemikiran masing-masing. Semua perasaan campur
aduk. Ada terselip rasa sedih juga di saana… Ah melankolis sekali cerita ini…
hahaha…
SEMANGAT!!!
Sebelum berangkat, aku sempat
cari tahu, searching, googling, tips perjalanan ibu hamil dengan pesawat. Dan
ternyata semua maskapai akan meminta surat keterangan dokter jika usia
kehamilan sudah melibihi 28 minggu. Dan akhirnya aku jadwalkan untuk cek
kehamilan sekalian minta surat keterangan ke klinik sebelum berangkat ke Jakarta.
Alhamdulillah si janin sehat
wal’afiat. Tidak ada sesuatu yang musti dikhawatirkan. Bidan pun terlihat ‘wah’
dengan pergerakan janinku yang sangat aktif dan tendangannya yang kuat sekali.
Selesai cek, surat keteranganpun di
tangan.
Detik-detik sebelum keberangkatan
pun kekhawatiran sebenarnya tak henti-hentinya. Suasana hati menjadi tidak
karuan dan doa terus terucap dalam hati. Begituppun suamiku. H-1 sebelum
keberangkatan pun, beliau terlihat tidak seperti biasanya, ada kegundahan yang
luar biasa di sana. Aku coba kuatkan dan yakinkan suamiku, aku coba kuatkan dan
yakinkan diriku dan aku ajarkan untuk selalu kuat, sehat dan ‘jangan lahir
mendadak’ dulu kepada janinku yang selalu bersemangat menendang-nendang
perutku. Aku rutinkan berbicara pada si janin. Aku yakin, janinku mendengarnya…
How nice!!! ^_^ ^_^
Bismillah, tanggal keberangkatan
pun datang. Suamiku sengaja tidak bekerja hari itu supaya bisa mengantarku ke
bandara. Pagi-pagi aku bereskan rumah, mencuci, memasak dan packing beberapa
pakaian. Rencananya cuma 2 hari di Jakarta jika semua urusan lancar. Setelah
mondar-mandir di dapur, aku sempatkan beristirahat sejenak. Tidur pulas agar
tidak terlalu capek dalam perjalanan nantinya. Menunggu zuhur, aku sempatkan
menemaniku suamiku yang langsung menyantap makanan yang baru saja aku masak.
Berusaha seceria mungkin, sesenang mungkin. Selesai zuhur, mandi, beres-beres
dan berangkat beli oleh-oleh untuk si bapak kosan yang sudah aku booking kamarnya selama aku di Jakarta.
Sesampainya di bandara, aku
langsung check in. Di counter check in, aku langsung mengaku
kalau aku sedang hamil dan memberikan surat keterangan dokter. Si petugas
melihat suratku, katanya pihak Lion Air Cuma menerima surat keterangan dokter
yang masa berlakunya cuma 3 hari. Kebetulan surat keteranganku, sudah 4 hari.
Si petugas menyuruhku ke ruangan medis di bandara Sultan Syarif Kasim II. Aku
mengikuti saja apa yang dikatakan petugas, aku berjalan perlahan ke ruangan kesehatan
yang ternyata… TUTUP!!! Di pintunya tertulis “Petugas sedang shalat”. Ya, aku check in di waktu ashar. Aku tunggu 1
menit, 2 menit, dan kemudian aku mondar-mandir di depan ruangan tersebut,
kemudian aku kembali keluar menuju suamiku. Kertas boarding sudah di tangan,
petugas istirahat, aku tidak di kawal ke ruang kesehatan, akhirnya suamiku
menyarankan, langsung saja ke ruang tunggu, tidak usah cek kesehatan lagi. Agak
ragu juga untuk cek kesehatan lagi di bandara, karena aku pernah membaca salah
satu pengalaman ibu hamil, bahwa dia dipersulit untuk terbang dengan pesawat
dalam keadaan kondisi hamil oleh tim medis bandara yang tidak berkompeten di
bidang kehamilan.
Pamit pada suami, dan aku
langkahkan kaki langsung menuju ruang tunggu. Shalat ashar dengan santai, isi
perut dengan sepotong roti agar ga terlalu lapar dan tak terlalu kenyang (biasanya
aku kalau sedang lapar, langsung mual, lemes dan kalau kekenyangan, perut berasa begah dan tegang sekali) dan
menunggu pesawat dengan sedikit “dag dig dug jer”. Kekhawatiranku adalah,
ketika nanti aku dipertanyakan soal kehamilanku, kemudian penerbangan menjadi delay gegara aku yang tidak mengurus
surat keterangan di ruang medis bandara dan pikiran-pikiran negatif lainnya
yang mungkin saja terjadi.
Ternyata oh ternyata, setelah
naik ke pesawat, aku hanya ditanya oleh pramugari, “Ibu sedang hamil? Sudah
berapa bulan? Anak pertama ya bu?”. Pertanyaan ringkas, tapi aku dengan mantap
walau dalam hati sempat risau untuk menjawab jujur. Aku jawab, “ Ya, sedang hamil
6 bulan dan anak pertama”. 6 bulan? Apa? Hm.. dalam hati, aku kan tidak bohong,
6 bulan kan meaningnya bisa banyak. 6
bulan 4 minggu (yang artinya sama saja dengan 7 bulan), mungkin juga 6 bulan 10
minggu. Hehe. Aku tidak berbohong, hanya sedikit bermain kata. Karena aku juga
sempat baca, bahwa kehamilan 7 bulan sangat rentan untuk lahir prematur, dan
juga pernah baca ada ibu hamil yang tidak diizinkan ikut terbang karena pihak
maskapai tidak mau mengambil resiko jikalau nanti terjadi apa-apa terhadap ibu
hamil tersebut. Kemudian, petugas lainnya, datang membawa surat, dan aku di
suruh menanda tangani surat tersebut. Aku tidak tahu persis apa isi suratnya,
tapi sepertinya itu adalah surat keterangan bahwa mereka tidak mau bertanggung
jawab terhadap kehamilanku jika terjadi sesuatu nantinya dalam penerbangan. Aku
tidak diberi salinan suratnya oleh pihak Lion Air.
Penerbangan pun berjalan dengan lancar
dan aman, walau setiap kali naik LION AIR selalu “gruduk-gruduk” di perjalanan.
Ketika take off, janinku
bergerak-gerak aktif sekali. Bergelombang ke sana kemari, tendang sana sini,
aku elus-elus pun tak mau tenang. Aku semakin deg-deg an. Aku coba tenangkan
diriku, dan aku terus membelai lembut janinku sambil berkata dalam hati “
tenang nak.. ummi di sini nak.. tenang.. yang kuat.. yang kuat.. jangan lahir
dulu.. yang kuat.. yang sehat ya nak”.. Berkali-kali aku tarik nafas yang dalam
agar aku tenang. Biasanya, si janin mengikuti alur ibunya, jika si ibu lelah,
janin akan lelah juga, jika ibu kuat, janin juga kuat dan aku menyimpulkan jika
si ibu panik, si janin juga ikutan panik. So, tarik nafas berkali-kali, elus-elus
perut, berdoa, menenangkan diri sendiri dan sang janin. BERES!!! Take off pun berjalan baik.
Di dalam pesawat, si janin entah
memang terlalu bersemangat atau panic, aku tidak tahu, tapi hebooooh banget,
aku susah mengendalikan diri sendiri. Mencoba untuk tidur, tapi penumpang di
sebelahku, berbicara terus, ribut sekali. Aku tidak bisa istirahat. Tenang…
tenang… tenang… minum sedikit air putih cukup membantuku untuk tenang, tapi aku
takut kebelet pipis. Ah rempong.
hahaha.. kepanikan yang luar biasa untuk ditenangkan by myself.
Saat-saat landing pun aku panik lagi. Si janin juga belum berhenti bergerak.
Plus pesawat yang tidak tenang. Bunyi mesin, bunyi suara-suara penumpang lain
yang sibuk dengan obrolan mereka, bunyi “gruduk-gruduk” kayak lagi jalan di
jalan bebatuan. Landing di Jakarta
membuatku panik luar biasa, tapi akhirnya aku putuskan untuk pegang lembut
perut dengan tangan sebelah kiri, dan tangan sebelah kanan memegang kursi di
depan agar tidak terlalu goncang. Ga enaknya naik pesawat Lion Air itu begitu
deh, “gruduk-gruduk” nya ga ilang-ilang…
Tapi sayangnya cuma itu pesawat yang murah. Weleh-weleh.
Alhamdulillah perjalanan menuju
Jakarta selamat, tapi perjuangan belum berakhir. Aku harus menaiki beberapa
transportasi lagi. Damri menuju Gambir dan naik taksi menuju kosan. Setibanya
dikosan, aku sudah berasa sangat kelelahan. Hujan pun terpaksa aku tempuh
daripada mengembangkan payung, dan harus petantang petenteng pegang payung dan
barang bawaan secara bersamaan. Saking lelahnya, aku cukup menyapa bapak kosan
dan sedikit basa-basi saja. Alhamdulillah lagi, kamarnya nyaman. Seperti kamar
hotel, ada TV, AC, kamar mandi di dalam, lemari dan sebuah rak. Kemudian juga
ada fasilitass galon serta kulkas. Dan sepertinya wifinya juga bisa digunakan.
Akan tetapi aku tidak begitu tertarik untuk menggunakan wifinya, karena badan
sudah lelah. Kuputuskan untuk segera shalat dan makan sepotong roti dan
sebatang coklat, minum air. Dan.. Zzzzzz.. tidur. Istirahat.
Hari berikutnya, aku sudah
mengatur janji sebelumnya dengan juniorku untuk transaksi “surat keterangan
dari jurusan sebagai syarat untuk mengambil ijazah. Jam 9 di lobi FKUI. Setelah
shalat subuh aku dirundung oleh rasa lapar yang tak tertahankan. Kuputuskan untuk
keluar kosan di pagi buta sekalian beli perlengkapan MCK. Aku kira minimarket
di gang kosan buka 24 jam, ternyata tidak, jadilah aku berjalan jauh ke dekat
jalan raya Salemba. Alfamart di belakang sevel. Dalam perjalanan tidak
kutemukan sama sekali yang jual makanan, jadi aku berniat untuk membeli stok
yang agak banyak buat sarapan pagi itu. Menjadi seorang ibu dan bahkan menjadi
seorang istri itu bisa merubah seseorang yang pemalas menjadi rajin. Dulu
sewaktu gadis, selapar apapun, kalau sedang tidak mood, aku malas sekali untuk
keluar kosan atau berusaha untuk mendapatkan makanan. Dan sekarang, demi calon
anakku, aku bela-belain jalan pagi dengan jarak yang lumayan tidak dekat dari
kosan untuk memenuhi gizi anakku kelak. Sepulang dari minimarket, ternyata ada
beberapa penjual makanan di tepi jalan yang sudah buka. Ada yang jual bubur
ayam dan ada yang jual nasi uduk. Aku tidak begitu menyukai bubur ayam,
akhirnya aku ikut mengantri di tempat penjual nasi uduk. Lumayan banyak yang
mengantri nasi uduk, si penjual nasi uduk sampai kewalahan melayani setiap
pembeli yang sudah mengantri kelaparan. Sambil menunggu antrian, aku melihat-lihat
makanan yang tersedia, tahu, tempe, telur bulat, telur dadar, mi goreng. Kalap,
ketika tiba giliranku memesan, aku memesan begitu banyak. Telur bulat, tahu dan
tempe. Hihihi…
Sesampai dikosan, aku sarapan
dengan begitu lahapnya ditemani oleh suara sang suami nun jauh di sana. Selesai
sarapan, beres-beres berangkat ke kampus. Agak grogi juga ketika melangkahkan
kaki ke kampus. Terbayang, jika nanti bertemu dengan orang yang kukenal, kemudian
melihat perubahan perutku, hihi antara senang dan canggung dengan perut buncit
ini. Setiap langkah aku nikmati perlahan, karena aku butuh tenaga yang banyak
hari itu. Sesampai di kampus, ketemu dengan junior, sedikit obrolan dan
mulailah petualanganku.
Aku menuju lantai 5 gedung IHVCB,
sesampai di sana, aku tidak langsung menemukan apa yang aku cari, aku sempat
berputar mencari petugas yang bertanggung jawab atas ijazah Mahasiswa S2.
Ketika bertemu dengan si petugas yang lumayan ramah, eng ing eng, ada satu
syarat yang tidak aku tahu sebelumnya. Mereka membutuhkan foto untuk ditempel
di ijazahku. Ukuran foto pun di luar biasanya, 4x4. Tapi jika diminta dalam
ukuran 2x3 atau 3x4 atau 4x6 pun, aku sebenarnya tidak mempunyai stok foto.
Hahay. Akhirnya aku izin cetak foto dulu. Sempat gundah juga ketika otak di
saat hamil mudah lupaan, aku lupa menaruh softcopy fotoku. Aku obok2 harddisk,
email dan handphone. Akhirnya aku bisa menemukannya di laptop. Sempat panik
ketika kabel harddisk tidak bersahabat membuat hardisk susah detect di laptop, internet yang lemot
dan di handphone pun aku tidak temukan satu softcopy
foto close up pun. Ternyata ga
jauh-jauh nyimpennya, foto itu ada di laptop. Ckckck.
Mencari tempat cetak foto
ternyata tidak sesulit yang aku bayangkan. Saat ini semua sudah bisa dilakukan
dengan modal komputer dan printer. Di rental pertama, “ga bisa mbak, di sebelah
bisa”. Di rental kedua, “Ga bisa dek, printernya rusak”. Di rental ketiga, “Ga
bisa mbak, printernya lagi bermasalah”. Galau… Yang aku tahu yang bisa cetak
foto di area kampus Salemba cuma tiga tempat itu. Aku duduk sejenak, minum air.
Aku berusaha serileks mungkin, agar janinku juga tetap tenang. Akhirnya aku
putuskan untuk keluar kampus. Aku ingat saat dikosan lama, diperjalanan menuju
kampus ada satu tempat untuk cetak foto. Kutelusuri jalanan yang tidak terlalu
dekat. Mendaki tanggga shelter transjakarta lagi. Cukup ngos-ngosan bolak-balik
naik tangga dalam keadaan hamil begini. Dalam perjalanan, aku melihat sekitar,
banyak perubahan. Karena saking terkesannya dengan beberapa perubahan tersebut,
aku sampai lupa dimana letak cetak fotonya, dan akhirnya bingung sendiri lagi.
Aku putuskan untuk cetak foto di warnet, siapa tahu bisa. Si penjaga warnet
bilang “ga bisa dek, di sebelah ada tempat cetak foto, ke sebelah aja”.
Ternyata eh ternyata, tempat cetak foto yang semula aku cari letaknya persis di
sebelah warnet. Beuh.
Penguluran waktu tidak hanya
sampai di sana. Di tempat cetak foto, ternnyata si petugas meminta bluetooth foto ke komputernya, dia tidak
menerima pengiriman lewat USB. Dan pengiriman file foto sempat membuat bingung,
karena berkali-kali mencoba mengirim ke komputernya, file foto tidak juga
tampil di layar komputer tersebut. Aku sempat berfikir, kalau seandainya tidak
bisa cetak foto di sini, haruskah aku ke Matraman untuk cetak foto saja? Tak
kehilangan akal, akhirnya si petugas mengusulkan untuk mengirim file foto ke
handphone pribadinya, dan kemudian mencoba transfer foto dari handphonenya ke komputer.
Dan semua selesai. Foto dicetak dengan bagus, tapi untuk stok aku coba bertanya
ke petugasnya apakah bisa cetak foto hitam putih, dan ternyata katanya tintanya
bermasalah jika cetak hitam putih.
Dengan santai aku sudahi
transaksi cetak foto, dan aku beranjak perlahan menuju kampus kembali. Dari
pasar paseban ke kampus, jaraknya lumayan melelahkan untuk seorang ibu hamil
yang harus menjaga sangat hagi-hati kandungannya. Aku putuskan untuk menyeberang
di traffic light saja daripada harus
menaiki tanggga penyeberangan shelter transjakarta UI Salemba. Sesampai di
kampus, kembali lagi menaiki lift ke lantai 5, menemui sang petugas ijazah.
Taraaaaa… ketika beliau menerima fotoku yang berwarna, beliau agak terkejut. “Fotonya
tidak hitam putih? Takutnya nanti dalam jangka kurun waktu yang lama, foto ini
akan luntur warnanya dan menjadi jelek”. Aku pasrah “Nggak apa-apa bu, pakai
foto itu saja, cape nyari tempat cuci foto ke bawah lagi, pada rusak printernya”.
Selesai. Kemudian fotocopy ijazah dan ambil transkrip nilai di lantai 5 pada
gedung lainnya. Naik turun naik turun. Untungnya pakai lift. Ga kebayang kalau harus
naik turun tangga.
Hari masih menunjukkan jam 11.
Perjalanan panjangku kujalani dengan santai tapi pasti. Masih banyak waktu yang
tersisa. Aku putuskan untuk berangkat ke Depok untuk legalisir ijazah dan
transkrip. Agar perjaalnan terasa nyaman, aku memilih naik taksi ke manggarai.
Sesampai di manggarai, langsung menuju jalur 6 untuk menunggu kereta menuju
Pondok cina. Untungnya aku masih punya kartu commuter line, jadi tidak perlu mengantri untuk beli tiket kereta. Tubuh
memang tidak terasa terlalu lelah. Jadi, tidak bermaksud berharap dapat tempat
duduk selama perjalanan. Dan sepertinya semua orang juga tidak begitu ‘ngeh’
kalau aku sedang hamil. Perutku yang tidak terlalu besar, keadaan manusia yang
lelah dan berharap tempat duduk, aku biarkan saja. Aku menikmati perjalanan
dengan berdiri di dekat pintu masuk kereta. Aku menghadap ke pintu agar perutku
terlindungi dari senggolan-senggolan mendadak dari penumpang. Biasanya
penumpang kereta suka grasak grusuk ga jelas.
Cukup lelah juga kaki menopang
tubuh yang mulai berat. Dari manggarai sampai pondok cina, aku berdiri dan
selalu berusaha tenang. Setibanya di pondok cina, aku masih harus berjalan kaki
menuju gedung rektorat. Dan sempat salah masuk gedung. Gedung Pelayanan
Mahasiswa Terpadu, terletak di samping gedung rektorat. Tepat saat aku sampai
di loket pengurusan legalisir, label ‘istirahat’ di pasang oleh pegawai di sana.
Tidak begitu kecewa juga sih, karena aku ingin perjalanan yang santai saja.
Jika tak selesai hari ini, masih ada hari esok. Aku lepaskan lelah dengan duduk
di bangku sofa yang lumayan empuk. Leganyaaaa, sambil santai-santai aku
ditemani oleh suara sang suami nun jauh di sana. Rindu? Iya.. aku sempat
merindukan beliau walau baru beberapa hari berpisah. Hahay.
Istirahat pegawai tidak begitu
lama. Waktu berlalu seolah menyelamatkanku dari rasa panik, bosan atau perasaan
tidak nyaman lainnya. Dan pengurusan legalisir pun lancar jaya tidak ada
kerumitan sama sekali. Aku minta tolong kepada pegawai di sana untuk
mengirimkan hasil legalisir ijazah dan transkrip nilaiku ke Pekanbaru. Mereka
bersedia dan semua beres. Alhamdulillah, semua tujuanku datang ke Jakarta dalam
keadaan hamil tercapai sudah. Selama menunggu pegawai istirahat, aku sempat searching tiket pulang, dan meminta
pendapat suami. Jika semua sudah selesai hari ini, besok aku langsung pulang
lagi ke Pekanbaru. Tiket pun sudah dibeli. Sekarang saatnya aku memanjakan jiwa
dan raga. Aku kembali berjalan kaki dari gedung tersebut menuju Mesjid UI,
shalat zuhur dan untungnya di sebelah masjid ada kafe, selesai shalat aku
langsung saja memesan makan siang.
Kalau diingat-ingat perjalananku
ribet ya? Bolak balik sana sini, tapi yang aku rasakan semua seolah bekerja
sama untuk mudah aku lakukan, aku tidak merasa begitu sulit dan rempong dalam
mengurus semuanya. Semua berasa dimudahkan oleh Sang Khalik. Dan sikap tetap
tenang ternyata juga dapat membantu melancarkan semua proses perjalanan hari
itu. Alhamdulillah.
Kembali ke kosan dengan santai, Alhamdulillah
lagi di commuter line aku mendapatkan tempat duduk
sampai manggarai. Dari manggarai ke kosan, aku naik bajaj, karena jarang
sekali terlihat taksi. Sempat was-was binti khawatir ketika naik bajaj saat
itu. Jalan menuju kosan banyak tanggulnya dan ketika bajaj berusaha melewati
tanggul tersebut, aku harus memegang perut dan menahan badan agar tidak begitu
terhenyak karena bajaj yang terguncang.
Penantian waktu hingga esok hari
terasa begitu lama. Aku mengambil tiket pulang penerbangan jam setengah 7 malam
kalau tidak salah. Siang aku check out dari kosan, Singgah ke kampus
sebentar (masih melewati jembatan penyeberangan shelter transjakarta) untuk
membayar biaya legalisir, balik lagi naik jembatan penyeberangan, kemudian makan
mie ayam favorit di depan kampus dan bungkus bawa pulang buat suami, terakhir
naik taksi menuju Gambir. Dari Gambir naik Damri menuju bandara. Sesampai di
bandara, check in. Dan perlakuan yang
sama aku dapatkan. Mereka dari pihak Sriwijaya Air, tidak menerima surat
keterangan ‘save flight’ yang aku punya yang sudah lewat dari tiga hari. Petugas check in meminta rekannya untuk
menemaniku periksa ke dokter di bandara. Aku pernah baca sebuah artikel, bahwa
ibu hamil itu gampang lupaan. Benar saja, setelah check in, aku melupakan handphone
ku yang aku gunakan untuk memperlihatkan bukti pembelian tiketku. Untung saja
petugasnya baik, kalau tidak, aku bakal panik kehilangan handphone. Hehe.
Di bagian pemeriksaan kesehatan,
aku hanya ditanya usia kehamilan, cek tensi darah dan dikenakan biaya
administrasi senilai Rp 50.000,-. Selesai. Penantian berasa semakin lama karena
aku datang sangat awal dan penerbanganku delay.
Aku sempatkan shalat magribh di ruang tunggu. Membosankan penantian di bandara.
Tidak bisa tidur, bisanya juga cuma ngemil doing, tapi di dalam penantianku,
aku menemukan sesosok manusia yang sempat menjadi rekan kerjaku di Bukittinggi.
Tak bisa bertegur sapa, karena jaraknya begitu jauh. Kangen juga kumpul-kumpul
dan bercanda dengan mereka-mereka yang unik dan bersemangat. PQK Bukittinggi
yang menyatukan kita. J
Sesampainya di Pekanbaru, aku
menunggu barang bawaan bagasiku, sementara sang suami sudah menungguku di luar
ruangan. Ah rindunya. Berasa ingin kupeluk sosok yang ‘besar’ itu. Hoho. Sang
suami tahu kalau aku belum makan malam, beliau pun mengajakku makan di sebuah
rumah makan. Tapi, lauknya sudah hampir habis semua. Jadilah kita cuma makan
dengan gulai telur bulat.. hehe.. Alhamdulillah tetap nikmat, karena aku
ditemani oleh si pujaan hati.
Perjalanan yang tidak terduga
akan sukses jaya seperti itu, Alhamdulillah selamat pulang pergi. Si janin pun
sangat bersahabat sekali ketika di ajak ‘anteng’ dalam setiap perjalanan jauh.
Allahu Akbar. Semua pasti atas kehendakNya. Semua berjalan lancar hanya atas
izinNya.. Terima Kasih Yaa Rabb… ^_^ ^_^
*Akhirnya selesai juga tulisan
ini setelah sekian lama menjadi draft di laptop. :p
Wednesday, 10 February 2016
Kematian
Hari ini iseng buka blog. Ada tulisan baru muncul di list teman yang saya ikuti. Membahasakan seperti telah kehilang seorang istri. Aku jadi teringat beberapa teman yang meninggal dunia, meninggalkan suaminya dalam keadaan 2 hari setelah menikah, meninggalkan istri dalam keadaan hamil 4 bulan, meninggalkan suami setelah keguguran anak pertama. Dan hari ini sepertinya teman blogku telah kehilangan istri yang sangat dicintainya.
Kematian... beberapa hari yang lewat, aku juga mendengar kabar buruk ini bertubi-tubi dari orang kampung. Banyak sekali yang meninggal dunia dalam minggu ini.
Kematian... Tidak ada yang dapat duga dan sangka, siapa yang akan pergi duluan, bagaimana cara mendapatkan kematian tersebut dan siapa yang akan ditinggalkan. Orang yang sakit parah pun, belum bisa dijamin akan lebih cepat meninggal dunia daripada orang yang sehat. Bahkan ada yang sehat, dan tiba-tiba jatuh di kamar mandi, kemudian langsung menghembuskan nafas terakhir.
Kematian...
Friday, 27 November 2015
Handmade BOX
Kotak, bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Contoh saja kotak-kotak unik berikut, bisa digunakan untuk :
1. Meletakkan accesoris

Kotak 3 Tingkat



Kotak 4 Tingkat

Kotak Bundar
2. Meletakkan Cincin Pernikahan
Kotak Berbentuk Kue Tingkat
3. Meletakkan Coklat

Kotak Coklat 5x10
Kotak Coklat 1x5
Kotak Coklat 1x3
Kotak Coklat Praline
Kotak Coklat Praline
4. Meletakkan Kue Ulang Tahun
Kotak Kue dan kuenya
1. Meletakkan accesoris

Kotak 3 Tingkat


Kotak 4 Tingkat
Kotak Bundar2. Meletakkan Cincin Pernikahan
Kotak Berbentuk Kue Tingkat3. Meletakkan Coklat

Kotak Coklat 5x10
Kotak Coklat 1x5
Kotak Coklat 1x3
Kotak Coklat Praline
Kotak Coklat Praline4. Meletakkan Kue Ulang Tahun
Kotak Kue dan kuenya
Untuk pemesanan dan info lebih lanjut, silahkan hubungi CP berikut:
Whatsapp : 08972612134
Line : yanodicraft
Instagram : @yanodi_craft
"Yang Unik Emang Lebih Asyik" 

Subscribe to:
Comments (Atom)