MasyaAllah
Laa haula wa laa quwwata Illa billah...
Sempat beberapa lama, keluarga kecil ini ditimpa semrawut yang lumayan membuat hati setiap hari bawaannya badmood terus...
Alhamdulillah masih berada di lingkungan orang-orang yang mau mengingatkan. Dan lewat merekalah terkadang Allah ketuk hati ini...
Dan mulai lah introspeksi diri. Memang saat itu ibadah mulai ciut, tilawah mulai kendur, sedekah pun boleh dihitung dengan jari.
Dan apapun itu, selalu mempertanyakan dalam hati, akankah kami bertemu di surga nanti, sedangkan keadaan rumah saat ini tak tau bentuk arah tujuannya seperti apalagi...
Mulai introspeksi diri...
Pasangan itu cerminan diri.
Aku mencoba testing...
Benarkah orang baik itu disandingkan dengan orang baik?
Benarkah sang suami akan menjadi pasangan di akhirat kelak?
Mencoba memperbaiki diri setelah beberapa lama hanya sibuk di dunia saja.
Tanpa ada ajakan, tanpa ada tindakan, kami masih dalam diam tak tau apa yang akan dibicarakan...
Mencoba memperbaiki shalat, tilawah, sedekah...
MasyaAllah dan siapapun itu, Allah bisa membolak-balik hatinya dalam sekejap...
Ternyata suami pun mulai memperbaiki diri dalam diamnya. Ternyata suami pun mulai introspeksi diri dengan caranya.
Allahu Akbar..
Semoga kita menjadi insan yang dicintai dan mencintai NYA...
Monday, 2 December 2019
Sunday, 1 December 2019
Masa Lalu
Cintailah setiap kesulitan yang engkau hadapi saat ini... Kelak engkau akan merindukannya, merindukan masa-masa berjuang, merindukan masa-masa ketika engkau merayakan 'akhirnya aku bisa'
MasyaAllah...
Laa haula wa laa quwwata Illa billah...
MasyaAllah...
Laa haula wa laa quwwata Illa billah...
Monday, 28 October 2019
Teplek
Nyamannya si teplek itu adalah:
1. Aku tetap dengan tinggiku yang asli, jadi tidak akan dibilang 'jangkung'
2. Aku tidak akan keseleo kaki, tidak akan pernah mengalami yang namanya 'heels yang patah', tidak akan pegel kaki, tidak akan kesulitan dalam berjalan di Medan yang seperti apapun...
3. Harga lebih murah tentunya dong... Hehehe...
Terlepas dari keuntungan tersebut, ternyata si teplek itu tidak melulu membuatku bahagia. Mereka juga membuatku harus menahan malu, tingkat PD yang harus lebih tinggi, dan sering bolak-balik nyari pengganti.
Beberapa kejadian yang sering menerpa aku dan si teplekku...
Kala itu...
(Hihi mulai lebay bahasanya...)
Semasa kuliah di Jurusan Biologi, kalau ke kampus dan lagi ga ada kuliah, acara kumpul2 atau keperluan lainnya, biasanya dari kost-an pakai sandal teplek doang. Bolak-balik jurusan dan plaza, kafe dan sekitaran kawasan Biologi. Mondar-mandir. Dan naas-lah ketika sampai di fotocopy. Nyawa sandal teplek sudah setengah karat... Beliau menganga seperti buaya lapar. Padahal urusan belum kelar. Apa yang aku lakukan? Aku pede aja dong, malah minta staples yang di fotocopy itu... Iya stapler yang gede itu lho... Sekeliling sandal aku stapler... 😅
Sering tuh waktu kuliah begitu. Menganga lapar dengan indahnya. Udah beli lagi yang baru - masih teplek dong, secara aku ndak mau dibilang jangkung - eh begitu lagi. Ada yang kasusnya tali depan untuk ngejepit,yang berada di antara jempol dan telunjuk kaki, putus di tengah jalan. Alhasil, selama dalam perjalanan terpaksa jalannya 'nyeret'.
Sandal teplek itu ya begitu. Namanya juga teplek, berarti ya dia tipis. Dipakai lama ga tahan. Aus-nya cepat sekali.
Waktu kuliah di Salemba yang lebih parah. Ga kapok-kapok beli teplek-an... Sepatu untuk kuliah (coba aku hitung dulu... Ada sekitar 5 atau lebih sepatu teplek), dan nasibnya sama! Itu sepatu dibawa kemana-mana. Ga peduli Medan perjalanannya seperti apa. Mau ke kelas, mau ke lapangan, mau ke Mall, ya hayuk aja. Mau keadaan panas, mau hujan, ya lanjut terus, diajak jalan santai, berlari, hantam terus. Alhasil, hampir semua sepatu teplek-ku mengalami ke AUS an... Tipis, atau lem-nya lepas. Bawahnya tembus ke jalan. Atau belakangnya lepas lem-nya. Jadinya aku jalannya pelaaaaan, pelaaaaan. Pede aja tuh diliatin orang sekitar (ya emang aku orangnya tipikal ndak suka ambil pusing sih apa yang dilakukan orang terhadap indera mereka masing-masing, hehe). Dan kadang harus berhenti berjalan, demi memperbaiki posisi sepatu agar masih bisa dipaksa bekerja sampai tujuan.
Cerita ini ter'inspirasi' dari kisah aku pergi kondangan beberapa hari yang lewat. Untungnya situasi sedang sepi, jadi suamiku ga malu-malu amat lihat kondisi sepatu parah abis.. 😆
Senin, yang kebanyakan orang memilih untuk resepsi pernikahan di hari Minggu, dan sekarang beliau tertarik pada hari Senin...
Suamiku tetap jualan hari itu, dan beliau menjanjikan kita akan pergi kondangan sekitaran jam 3 atau 4 sore. Alhamdulillah jadwal ini yang beliau pilih, karena ternyata sesampainya kami di sana, sedang sepi, tidak begitu ramai.
Aku bingung kalau musti ke acara-acara 'formal' yang menuntutku harus berbentuk 'feminim'. Sepatuku yang sporty masih ada beberapa, tapi tidak mungkin pergi ke walimahan musti pakai sepatu begituan. Sementara, sepatu yang selalu aku pakai untuk 'adegan feminim' ini, kasusnya sudah mengalami ke AUS an di bagian jempol. Jadi kalau masih tetap dipaksakan untuk digunakan, akan berakibat, kaos kakiku akan basah kuyup jika tiba-tiba hujan turun dan membasahi jalanan.
Akhirnya diputuskan untuk menggunakan sepatu nikah. Hayo tebak, sepatu nikahan aku teplek atau Ndak? Ya so pasti teplek lah... 😁
Dan untung lho, waktu nikahan aku pilihnya sepatu teplek, karena waktu nikahan, ada acara yang namanya 'manjapuik marapulai', itu aku harus bersunting ria (berat saudara-saudari, aku pakai Suntiang Minang yang asli-nya bukan yang modern ala-ala) dan berjalan di kampung yang jalannya terjal turun dan mendaki. Hosh, untung sudah terlatih wara Wiri ke sana kemari dengan kerempongan Medan lapangan.. 😁
Nah, jadi sepatu nikahan itu aku beli dua pasang dulunya.. sekarang sudah sekitar 4 tahun yang lalu aku menikah. Satu pasang sepatu sudah aku buang, karena sudah lepas lem-nya. Ndak layak pakai sama sekali.
Sepatu yang sepasang lagi, jarang dipakai, aku lihat kondisinya masih bisa dipakai. Aku pakai lah, karena ndak ada pilihan sepatu yang lain.
Sesampainya di tempat resepsi, untungnya pada sepi, dan sanak keluarga sendiri, mau duduk di tempat duduk untuk segera makan, sepatuku lem-nya lepas... Bagian belakang... Allahu Rabbi...
Aku bilang sama suami... Suami cengo'... Ga tau harus musti ngapain. Warung juga entah dimana (ada ide mau beli sandal jepit). Kemudian, aku korbankan pin kesayangan untuk menahan sementara sepatu yang lepas lem-nya.
Ketika mau salaman dengan pengantin, naik tangga, dan kepala pin-nya lepas... 😱
Terpaksa suami bantu gendong Zahra, dan aku berusaha santai.
Selesai salaman, foto-foto, turun tangga, dan sepatu ndak bisa terselamatkan lagi, lepas sampai depan... 😆
Akhirnya aku pulang menuju parkiran mobil dengan kaki sebelah kanan tanpa sepatu (sepatunya aku jinjing) 🤣
Sesuatu banget ya...
Ya begitulah. Inilah hidup. Tidak ada yang benar-benar kamu suka itu akan baik bagimu. Pun sebaliknya.
Jadi, besok mau beli sepatu baru, tetap pilih teplek?
Oh, tetap doooong... 😝
1. Aku tetap dengan tinggiku yang asli, jadi tidak akan dibilang 'jangkung'
2. Aku tidak akan keseleo kaki, tidak akan pernah mengalami yang namanya 'heels yang patah', tidak akan pegel kaki, tidak akan kesulitan dalam berjalan di Medan yang seperti apapun...
3. Harga lebih murah tentunya dong... Hehehe...
Terlepas dari keuntungan tersebut, ternyata si teplek itu tidak melulu membuatku bahagia. Mereka juga membuatku harus menahan malu, tingkat PD yang harus lebih tinggi, dan sering bolak-balik nyari pengganti.
Beberapa kejadian yang sering menerpa aku dan si teplekku...
Kala itu...
(Hihi mulai lebay bahasanya...)
Semasa kuliah di Jurusan Biologi, kalau ke kampus dan lagi ga ada kuliah, acara kumpul2 atau keperluan lainnya, biasanya dari kost-an pakai sandal teplek doang. Bolak-balik jurusan dan plaza, kafe dan sekitaran kawasan Biologi. Mondar-mandir. Dan naas-lah ketika sampai di fotocopy. Nyawa sandal teplek sudah setengah karat... Beliau menganga seperti buaya lapar. Padahal urusan belum kelar. Apa yang aku lakukan? Aku pede aja dong, malah minta staples yang di fotocopy itu... Iya stapler yang gede itu lho... Sekeliling sandal aku stapler... 😅
Sering tuh waktu kuliah begitu. Menganga lapar dengan indahnya. Udah beli lagi yang baru - masih teplek dong, secara aku ndak mau dibilang jangkung - eh begitu lagi. Ada yang kasusnya tali depan untuk ngejepit,yang berada di antara jempol dan telunjuk kaki, putus di tengah jalan. Alhasil, selama dalam perjalanan terpaksa jalannya 'nyeret'.
Sandal teplek itu ya begitu. Namanya juga teplek, berarti ya dia tipis. Dipakai lama ga tahan. Aus-nya cepat sekali.
Waktu kuliah di Salemba yang lebih parah. Ga kapok-kapok beli teplek-an... Sepatu untuk kuliah (coba aku hitung dulu... Ada sekitar 5 atau lebih sepatu teplek), dan nasibnya sama! Itu sepatu dibawa kemana-mana. Ga peduli Medan perjalanannya seperti apa. Mau ke kelas, mau ke lapangan, mau ke Mall, ya hayuk aja. Mau keadaan panas, mau hujan, ya lanjut terus, diajak jalan santai, berlari, hantam terus. Alhasil, hampir semua sepatu teplek-ku mengalami ke AUS an... Tipis, atau lem-nya lepas. Bawahnya tembus ke jalan. Atau belakangnya lepas lem-nya. Jadinya aku jalannya pelaaaaan, pelaaaaan. Pede aja tuh diliatin orang sekitar (ya emang aku orangnya tipikal ndak suka ambil pusing sih apa yang dilakukan orang terhadap indera mereka masing-masing, hehe). Dan kadang harus berhenti berjalan, demi memperbaiki posisi sepatu agar masih bisa dipaksa bekerja sampai tujuan.
Cerita ini ter'inspirasi' dari kisah aku pergi kondangan beberapa hari yang lewat. Untungnya situasi sedang sepi, jadi suamiku ga malu-malu amat lihat kondisi sepatu parah abis.. 😆
Senin, yang kebanyakan orang memilih untuk resepsi pernikahan di hari Minggu, dan sekarang beliau tertarik pada hari Senin...
Suamiku tetap jualan hari itu, dan beliau menjanjikan kita akan pergi kondangan sekitaran jam 3 atau 4 sore. Alhamdulillah jadwal ini yang beliau pilih, karena ternyata sesampainya kami di sana, sedang sepi, tidak begitu ramai.
Aku bingung kalau musti ke acara-acara 'formal' yang menuntutku harus berbentuk 'feminim'. Sepatuku yang sporty masih ada beberapa, tapi tidak mungkin pergi ke walimahan musti pakai sepatu begituan. Sementara, sepatu yang selalu aku pakai untuk 'adegan feminim' ini, kasusnya sudah mengalami ke AUS an di bagian jempol. Jadi kalau masih tetap dipaksakan untuk digunakan, akan berakibat, kaos kakiku akan basah kuyup jika tiba-tiba hujan turun dan membasahi jalanan.
Akhirnya diputuskan untuk menggunakan sepatu nikah. Hayo tebak, sepatu nikahan aku teplek atau Ndak? Ya so pasti teplek lah... 😁
Dan untung lho, waktu nikahan aku pilihnya sepatu teplek, karena waktu nikahan, ada acara yang namanya 'manjapuik marapulai', itu aku harus bersunting ria (berat saudara-saudari, aku pakai Suntiang Minang yang asli-nya bukan yang modern ala-ala) dan berjalan di kampung yang jalannya terjal turun dan mendaki. Hosh, untung sudah terlatih wara Wiri ke sana kemari dengan kerempongan Medan lapangan.. 😁
Nah, jadi sepatu nikahan itu aku beli dua pasang dulunya.. sekarang sudah sekitar 4 tahun yang lalu aku menikah. Satu pasang sepatu sudah aku buang, karena sudah lepas lem-nya. Ndak layak pakai sama sekali.
Sepatu yang sepasang lagi, jarang dipakai, aku lihat kondisinya masih bisa dipakai. Aku pakai lah, karena ndak ada pilihan sepatu yang lain.
Sesampainya di tempat resepsi, untungnya pada sepi, dan sanak keluarga sendiri, mau duduk di tempat duduk untuk segera makan, sepatuku lem-nya lepas... Bagian belakang... Allahu Rabbi...
Aku bilang sama suami... Suami cengo'... Ga tau harus musti ngapain. Warung juga entah dimana (ada ide mau beli sandal jepit). Kemudian, aku korbankan pin kesayangan untuk menahan sementara sepatu yang lepas lem-nya.
Ketika mau salaman dengan pengantin, naik tangga, dan kepala pin-nya lepas... 😱
Terpaksa suami bantu gendong Zahra, dan aku berusaha santai.
Selesai salaman, foto-foto, turun tangga, dan sepatu ndak bisa terselamatkan lagi, lepas sampai depan... 😆
Akhirnya aku pulang menuju parkiran mobil dengan kaki sebelah kanan tanpa sepatu (sepatunya aku jinjing) 🤣
Sesuatu banget ya...
Ya begitulah. Inilah hidup. Tidak ada yang benar-benar kamu suka itu akan baik bagimu. Pun sebaliknya.
Jadi, besok mau beli sepatu baru, tetap pilih teplek?
Oh, tetap doooong... 😝
Sunday, 29 September 2019
Bocah berubah jadi Gadis 😁
Tetiba pengen cerita tentang seseorang, tapi tidak menemukan tempat yang pas. Akhirnya pilihan berakhir di blog ini...
Tidak sengaja stalking-stalking di Instagram nemu foto salah satu siswa SMA. Jadilah mengunjungi Instagram-nya.
MasyaAllah gadis itu sudah besar. Tidak terasa waktu berputar cepat. Masih lekat diingatan, waktu aku masih bekerja sebagai costumer service coordinator di salah satu bimbel, gadis itu masih SD. Pagi-pagi saat mau sosialisasi ke salah satu sekolah Islam, tiba-tiba ada telpon dari nomor baru. Ngajak kenalan, ngajak ngobrol.
Suara itu suara anak SD yang iseng, bareng temannya, terdengar cekikikan di belakang suara si bocah.
"Dapat nomor kakak dari mana?"
"Dari hasil pencet sembarangan nomor aja, kak" ...
Ah kembali teringat, dulu saat masih baru punya handphone, aku juga sering iseng begini, tapi dalam hati jadi nyeletuk 'ini nomor hp ku berantakan banget berarti ya, sampai2 orang sembarang pencet juga nyambung ke nomor aku'..
Hahay, singkat cerita, si anak sering banget menghubungi ku, nd peduli aku sedang apa dan da peduli dia sedang apa. Nanyain pertanyaan2 standar; sedang apa, lagi ngapain, aku lagi cape nih di sekolah tadi begini begitu, dan obrolan seorang anak SD ke kakaknya lah..
Aku karena bimbelnya dulu untuk anak SD, ya jadinya keikut jadi suka sama anak SD, jadi dilayani aja itu bocah ngobrol, sampai ke FB segala, setiap postingan dikomentari sama beliau ini... 😅
Dan sekarang aku kembali bekerja di bimbel. Sebagai branch manager di salah satu bimbel yang diperuntukkan untuk anak SMA. Kalau diingat-ingat berarti 'incaran' siswa ku dari dulu berarti ga berubah, dulu mereka masih SD, ketemu aku, sekarang mereka SMA ketemu aku lagi... Hehe...
Daaaan inti sebenarnya itu adalah menceritakan perkembangan dan berjalannya waktu yang tak terasa sudah berjalan sekian tahun. Si bocah tadi sudah menjelma menjadi gadis manis. Kita tidak pernah bertemu sama sekali karena memang terpisah jarak yang sangat jauh, aku di pulau Sumatera, beliau di pulau Kalimantan.
Nice...
Perkenalan dan keakraban yang terjalin menjadi sesuatu yang 'amazing' menurutku.
Nice to know you girl...
Semoga menjadi pribadi yang selalu ceria... 😊
Tidak sengaja stalking-stalking di Instagram nemu foto salah satu siswa SMA. Jadilah mengunjungi Instagram-nya.
MasyaAllah gadis itu sudah besar. Tidak terasa waktu berputar cepat. Masih lekat diingatan, waktu aku masih bekerja sebagai costumer service coordinator di salah satu bimbel, gadis itu masih SD. Pagi-pagi saat mau sosialisasi ke salah satu sekolah Islam, tiba-tiba ada telpon dari nomor baru. Ngajak kenalan, ngajak ngobrol.
Suara itu suara anak SD yang iseng, bareng temannya, terdengar cekikikan di belakang suara si bocah.
"Dapat nomor kakak dari mana?"
"Dari hasil pencet sembarangan nomor aja, kak" ...
Ah kembali teringat, dulu saat masih baru punya handphone, aku juga sering iseng begini, tapi dalam hati jadi nyeletuk 'ini nomor hp ku berantakan banget berarti ya, sampai2 orang sembarang pencet juga nyambung ke nomor aku'..
Hahay, singkat cerita, si anak sering banget menghubungi ku, nd peduli aku sedang apa dan da peduli dia sedang apa. Nanyain pertanyaan2 standar; sedang apa, lagi ngapain, aku lagi cape nih di sekolah tadi begini begitu, dan obrolan seorang anak SD ke kakaknya lah..
Aku karena bimbelnya dulu untuk anak SD, ya jadinya keikut jadi suka sama anak SD, jadi dilayani aja itu bocah ngobrol, sampai ke FB segala, setiap postingan dikomentari sama beliau ini... 😅
Dan sekarang aku kembali bekerja di bimbel. Sebagai branch manager di salah satu bimbel yang diperuntukkan untuk anak SMA. Kalau diingat-ingat berarti 'incaran' siswa ku dari dulu berarti ga berubah, dulu mereka masih SD, ketemu aku, sekarang mereka SMA ketemu aku lagi... Hehe...
Daaaan inti sebenarnya itu adalah menceritakan perkembangan dan berjalannya waktu yang tak terasa sudah berjalan sekian tahun. Si bocah tadi sudah menjelma menjadi gadis manis. Kita tidak pernah bertemu sama sekali karena memang terpisah jarak yang sangat jauh, aku di pulau Sumatera, beliau di pulau Kalimantan.
Nice...
Perkenalan dan keakraban yang terjalin menjadi sesuatu yang 'amazing' menurutku.
Nice to know you girl...
Semoga menjadi pribadi yang selalu ceria... 😊
Sunday, 18 August 2019
Kejahatan Laboratorium
Alhamdulillah ya sesuatu banget, di saat ekonomi sedang 'melunjak' turun, tetiba Alat Bantu Dengar anakku mati setiap lima menit. Awalnya panik sekedar panik aja, karena ketika di bawa ke Hearing Center-nya, yang dibahas adalah habisnya masa garansi dan biaya repair exchange-nya yang bagi kami, masih terseok-seok menuju jumlah angka tersebut. Kurang lebih Rp. 2000.000,- untuk biaya repair exchange... Alhamdulillah, masih ada uang 1 juta (tabungan), dan niat awal abiZZ untuk beli handphone baru senilai 1 juta. Ah... sedih sekali rasanya, disaat sudah berhemat-hemat untuk keperluan yang lain, keperluan mendadak datang tiba-tiba. Awalnya masih berusaha ikhlas dengan kondisi ini, karena memang mempunyai anak berkebutuhan khusus, harus siap dengan biaya yang sangat besar. Tapi agak kaget saja, kenapa secepat ini alatnya rusak?
Tak berapa lama setelah ABD sebelah kanan dikirim ke Jakarta, ABD sebelah kiri mengalami hal yang sama. Entah mengapa, otak langsung su'udzon saja. "Apakah ini pure kerusakan atau memang disengaja oleh pihak produsen atau distribusi alatnya?". Karena memang tidak ada angin, tidak ada hujan, alat ndak pernah dibanting, alat dibersihkan, alat di copot saat anak mandi dan tidur (kurang istirahat apalagi coba ini alat? tuannya tidur, dia ikut tidur).
Kemudian saya iseng mampir ke fanpage-nya hearing center tempat ABD di beli. Saya menemukan bahasa marketing, yang menurut saya ada kaitannya dengan ABD yang rusak. Dulu saat masa garansi akan habis, saya ditawari oleh Hearing Center untuk upgrade ABD ke spesifikasi yang lebih baik. Harga ABD lama dihargai 75%. Kami yang waktu itu memang sedang tidak ada dana dan ABD Zian waktu itu fine-fine saja, menolak untuk upgrade. Bahasa marketingnya, ABD yang masih dalam garansi, dihargai 75%, ABD yang sudah memasuki tahun ke-3 dihargai 50%, dan seterusnya.
Jadi, kepikiran, apakah ini sudah di setting dari awal? Karena mereka selalu menyarankan untuk service ABD setiap minimal 6 bulan sekali. Dan service itu katanya sih hanya bersih-bersih doang. Lha apa bedanya bersih-bersih di rumah dengan harus bersih-bersih ke Jakarta? Dan service-nya pun harus di kirim ke Jakarta lho, bukan cukup di kantor cabang Bukittinggi saja. Jadinya kan makin curiga, ini mungkin ketika service kirim ke Jakarta ada upgrade software, biar bisa dipake lama. Yang awalnya settingan hanya bisa dipakai 2 tahun (dan dilebihkan beberapa bulan, biar ga ketara banget settingannya), setelah service, diupgrade lagi.
Curiganya sih begitu, karena memang sebenarnya "KEJAHATAN LABORATORIUM" itu memang ada. Tak hanya laboratorium elektronik ini saja. Di medis pun, ada kejahatan ini.
Beberapa waktu lalu, sempat baca status salah satu teman kuliah S2 dulu. Beliau adalah kepala PMI di salah satu daerah. Dan waktu itu beliau dapat tawaran dari seseorang untuk memasukkan sesuatu (entah itu bakteri atau virus) ke dalam darah di PMI. Katanya, mereka sudah bekerja sama dengan orang-orang yang memberikan pelayanan bekam juga. Dan nanti pihak PMI atau pihak yang menerima tawaraan mereka memperoleh fee. Untungnya beliau (teman saya) menolak mentah-mentah dan langsung mengadukan ke atasannya dan me-viralkan di medsos.
Tidak dipungkiri, kejahatan laboratorium itu memang ada. Waktu penelitian pun, tidak sedikit dari beberapa peneliti yang mencoba manipulasi data atau me-blur-kan data seolah hasil penelitiannya bagus, significant dan membawa perubahan yang lebih baik.
Zaman sudah semakin tua. Banyak orang yang akan melakukan apapun demi bisa terlihat glamour.
Na'udzubillah...
Astaghfirullah... Entahlah apakah tulisan ini akan bermanfaat atau tidak. Ini hanya uneg-uneg saja. Kita lihat perkembangan ABD Zian sebelah kiri. Apakah tetap repair exchange (karena kasusnya sama persis dengan ABD sebelah kanan), atau mereka 'upgrade'? Karena waktu itu sempat ngedumel di fanpage mereka, dan menyampaikan kecurigaan saya waktu itu di postingan promo upgrade.
Tak berapa lama setelah ABD sebelah kanan dikirim ke Jakarta, ABD sebelah kiri mengalami hal yang sama. Entah mengapa, otak langsung su'udzon saja. "Apakah ini pure kerusakan atau memang disengaja oleh pihak produsen atau distribusi alatnya?". Karena memang tidak ada angin, tidak ada hujan, alat ndak pernah dibanting, alat dibersihkan, alat di copot saat anak mandi dan tidur (kurang istirahat apalagi coba ini alat? tuannya tidur, dia ikut tidur).
Kemudian saya iseng mampir ke fanpage-nya hearing center tempat ABD di beli. Saya menemukan bahasa marketing, yang menurut saya ada kaitannya dengan ABD yang rusak. Dulu saat masa garansi akan habis, saya ditawari oleh Hearing Center untuk upgrade ABD ke spesifikasi yang lebih baik. Harga ABD lama dihargai 75%. Kami yang waktu itu memang sedang tidak ada dana dan ABD Zian waktu itu fine-fine saja, menolak untuk upgrade. Bahasa marketingnya, ABD yang masih dalam garansi, dihargai 75%, ABD yang sudah memasuki tahun ke-3 dihargai 50%, dan seterusnya.
Jadi, kepikiran, apakah ini sudah di setting dari awal? Karena mereka selalu menyarankan untuk service ABD setiap minimal 6 bulan sekali. Dan service itu katanya sih hanya bersih-bersih doang. Lha apa bedanya bersih-bersih di rumah dengan harus bersih-bersih ke Jakarta? Dan service-nya pun harus di kirim ke Jakarta lho, bukan cukup di kantor cabang Bukittinggi saja. Jadinya kan makin curiga, ini mungkin ketika service kirim ke Jakarta ada upgrade software, biar bisa dipake lama. Yang awalnya settingan hanya bisa dipakai 2 tahun (dan dilebihkan beberapa bulan, biar ga ketara banget settingannya), setelah service, diupgrade lagi.
Curiganya sih begitu, karena memang sebenarnya "KEJAHATAN LABORATORIUM" itu memang ada. Tak hanya laboratorium elektronik ini saja. Di medis pun, ada kejahatan ini.
Beberapa waktu lalu, sempat baca status salah satu teman kuliah S2 dulu. Beliau adalah kepala PMI di salah satu daerah. Dan waktu itu beliau dapat tawaran dari seseorang untuk memasukkan sesuatu (entah itu bakteri atau virus) ke dalam darah di PMI. Katanya, mereka sudah bekerja sama dengan orang-orang yang memberikan pelayanan bekam juga. Dan nanti pihak PMI atau pihak yang menerima tawaraan mereka memperoleh fee. Untungnya beliau (teman saya) menolak mentah-mentah dan langsung mengadukan ke atasannya dan me-viralkan di medsos.
Tidak dipungkiri, kejahatan laboratorium itu memang ada. Waktu penelitian pun, tidak sedikit dari beberapa peneliti yang mencoba manipulasi data atau me-blur-kan data seolah hasil penelitiannya bagus, significant dan membawa perubahan yang lebih baik.
Zaman sudah semakin tua. Banyak orang yang akan melakukan apapun demi bisa terlihat glamour.
Na'udzubillah...
Astaghfirullah... Entahlah apakah tulisan ini akan bermanfaat atau tidak. Ini hanya uneg-uneg saja. Kita lihat perkembangan ABD Zian sebelah kiri. Apakah tetap repair exchange (karena kasusnya sama persis dengan ABD sebelah kanan), atau mereka 'upgrade'? Karena waktu itu sempat ngedumel di fanpage mereka, dan menyampaikan kecurigaan saya waktu itu di postingan promo upgrade.
Sunday, 23 June 2019
One step closer
Heart beats fast
Colors and promises
How to be brave
How can I love when I'm afraid to fall
But watching you stand alone
All of my doubt, suddenly goes away somehow
Tiba-tiba aku mendengarkan lagu ini setelah sekian lama tidak mendengarkan dan memaknai setiap alunan musik. Lagu ini sebenarnya punya makna lain di masa lalu, sebuah kenangan 'have fun' saja dengan seorang sahabat, dan ini bukan mengingatkan tentang percintaan sepasang kekasih bagiku, tapi lebih ke sebuah ketulusan.
Malam ini, agak sedikit melow memang... Lagu ini penyemangat untuk aku berjuang demi anak-anakku. Lika-liku kehidupan yang berkelok-kelok tajam ini, sering sekali membuat terjatuh akhir-akhir ini. Terlebih jika aku berjuang sendirian tidak ingin merepotkan orang lain. Aku ingin melakukannya sendirian, tapi aku tak berdaya.
Mempunyai anak berkebutuhan khusus itu mengaduk-aduk perasaan memang. Tak sekali dua kali harus menahan tangis demi terlihat 'stonger' dihadapan anak-anakku. Tak sekali dua kali harus menahan emosi menjelaskan kepada lingkungan sekitar tentang anak-anakku. Tak sekali dua kali aku harus jatuh bangun demi mereka.
One step closer...
Semoga usaha ini tidak sia-sia ya nak... Dan semoga engkau juga menikmati setiap proses dengan bahagia.
Shaleh shalehah ya ZZ ...
Love you both...
Colors and promises
How to be brave
How can I love when I'm afraid to fall
But watching you stand alone
All of my doubt, suddenly goes away somehow
Tiba-tiba aku mendengarkan lagu ini setelah sekian lama tidak mendengarkan dan memaknai setiap alunan musik. Lagu ini sebenarnya punya makna lain di masa lalu, sebuah kenangan 'have fun' saja dengan seorang sahabat, dan ini bukan mengingatkan tentang percintaan sepasang kekasih bagiku, tapi lebih ke sebuah ketulusan.
Malam ini, agak sedikit melow memang... Lagu ini penyemangat untuk aku berjuang demi anak-anakku. Lika-liku kehidupan yang berkelok-kelok tajam ini, sering sekali membuat terjatuh akhir-akhir ini. Terlebih jika aku berjuang sendirian tidak ingin merepotkan orang lain. Aku ingin melakukannya sendirian, tapi aku tak berdaya.
Mempunyai anak berkebutuhan khusus itu mengaduk-aduk perasaan memang. Tak sekali dua kali harus menahan tangis demi terlihat 'stonger' dihadapan anak-anakku. Tak sekali dua kali harus menahan emosi menjelaskan kepada lingkungan sekitar tentang anak-anakku. Tak sekali dua kali aku harus jatuh bangun demi mereka.
One step closer...
Semoga usaha ini tidak sia-sia ya nak... Dan semoga engkau juga menikmati setiap proses dengan bahagia.
Shaleh shalehah ya ZZ ...
Love you both...
Saturday, 16 February 2019
Serba Serbi Toilet Training
Alhamdulillah, Zian sudah bisa lepas popok dengan latihan 10 hari saja. Emak kira akan lebih lama waktu yang dibutuhkan Zian untuk lepas popok, dikarenakan Zian belum paham kata-kata. Dan emak sempat cari tahu dulu, waktu yang paling lama yang dibutuhkan oleh anak-anak pada umumnya untuk toilet training itu berapa lama, ternyata ada yang sampai 6 bulan, dan emak makin galau ketika baca artikel tersebut, karena 6 bulan itu bukan waktu yang sebentar bagi emak untuk menahan sabar harus ngepel pipis atau pup yang berserakan di dalam rumah. Sebenarnya target toilet training emak kali ini, cukup Zian bisa lepas popok dan mengabarkan kalau dia pengen pipis atau pup. Dan alhamdulillah semua terlalui sudah.
Tipsnya sebenarnya, para emak harus tahu dulu, emak dan anak serta para bapak juga sudah yakin "SIAP" untuk toilet training. Karena, salah satu penyebab lamanya waktu yang dibutuhkan untuk toilet training itu adalah, ketidaksiapan salah satu dari tiga orang tersebut.
Emak harus siap-siap akan bolak-balik ke toilet, harus siap ngepel pipis dan pup yang berserakan di dalam rumah, harus siap ngoceh berkali-kali memberitahukan "kalau pipis atau pup itu di toilet", harus siap jika tiba-tiba ketika makan atau kondisi lainnya, anak sudah mulai mengabarkan dan seketika itu juga emak harus siap siaga membawa anak ke toilet.
Untuk sang bapak, harus siap sedia, jikalau si emak minta tolong untuk antarkan si anak ke toilet. Dan tentunya kesiapan anak. Jika si anak belum siap untuk di training, tentunya akan lebih lama untuk melatihnya. Lho, darimana kita tahu kesiapan anak? Dari hasil baca-baca sih, perhatikan popoknya, jika ketika tidur dia sudah tidak pipis, berarti anak sudah siap untuk training toilet.
Ok. ini ada beberapa curhatan emak selama training toilet Zian. Semoga bermanfaat dan selamat membaca... ^_^
2/3 Februari 2019 (males cek kalender)
Hari ini perdana toilet training Zian, anak Tuna Rungu berumur 3 tahun kurang 1 bulan. Belum bisa bicara dan belum begitu paham kata-kata tapi sudah respon dengan suara emak. Hm.. Tapi bukan yang pertama juga sih. Sebelum-sebelumnya juga sudah pernah coba beberapa kali. Tapi emosi emak tidak begitu sabar untuk menghadapi Zian yang belum paham apa yang emak minta.
Hari ini berawal dengan suasana cuaca yang mendung dan gerimis, otomatis suhu dingin di Kabupaten Agam ini plus Zian dikasih minum teh manis oleh abinya. Kebiasaan Zian kalau minum, ga puas 1 gelas. Dia juga minum jatah adiknya dan jatah emaknya.
Alhasil, hari ini Zian pipis berulang kali. Awalnya sepertinya dia paham. Pipis yang pertama dia coba mengabarkan kepada emak, kalau dia pipis, setelah sebelumnya dia pipis banyak sekali di kamar dan air pipisnya dimainin dengan menggunakan tutup spidol. Kesel? Iya emak kesel. Nah, yang kedua kalinya Zian pipis, emak ga ngeh. Dia nurutin kemana emak pergi, emak sempat heran awalnya 'ini anak kenapa ngikutin terus? Biasanya asik main sendiri aja atau gangguin adiknya.' Ternyata Zian pipis. Celananya sudah basah. Tapi sayangnya Zian mengabarkan ke emak, saat dia sudah pipis bukan sebelum pipis. Pun pipis ketiga kalinya hari ini, Zian kembali mengabarkan kepada emak saat Zian sudah pipis bukannya sebelum pipis.
Setelah rempong dengan beberapa cucian pipisnya Zian, agak siangan sepertinya Zian mulai tidak terganggu dengan celananya yang basah. Karena pipisnya NYICIL!!! Sedikit-sedikit dan sering. Emak makin bete. Zian kalau diajak ngomong, jarang banget mau lihat si pembicara. Akhirnya emak ajak Zian ke toilet untuk lihat emak pipis, biar Zian bisa tiru. Siang ini berkali-kali emak coba katakan dan ajarkan, untuk bilang pipis. Dia pun berteriak "Yaaaaaaaa". Entah Zian paham atau tidak. Yang jelas emak kedinginan dan lelah jasmani dan rohani sehabis mencuci pakaian terkena pipis Zian -_-
Mencoba bertahan, semoga emak bisa lebih sabar dan Zian makin paham.
HAPA KAJI DEK DIULANG.
Kisah toilet training Zian ini sepertinya mengulang kisah saat Zian masih ngASI. Emak musti standby setiap 2 jam. Toilet training lebih lapang sih waktunya dibanding ketika masih ngASI. Dulu Zian ngASI-nya "kuat" sekali. Kadang kalau malam bisa setiap 1 jam.
SEMANGAT MAK!
Coba bertahan sampai Zian paham untuk buang air besar dan buang air kecil sendiri di toilet.
Sorenya, Zian berhasil pipis di toilet. Tapi itu di jadwal rutin 1x2jam diajakin emak ke toilet.
4 Februari 2019
Hari ini alhamdulillah tidak terlalu banyak cucian. Zuhur, Zian diajak pipis di toilet sambil main hp dan Zian pun pipis. Tapi belum berhasil pipis di jadwal berikutnya. Dan Zian pun belum BAB hari ini.
5 Februari 2019
Emak mulai risau. Dari semalam Zian tidak pipis. Pagi pun tidak pipis dan belum BAB. Emak makin risau "apakah ada kasus anak yang tidak suka atau belum waktunya untuk training toilet malah menahan pipis dan akhirnya tidak pipis-pipis?"
Ah... Emak galau...
Tapi alhamdulillah. Akhirnya Zian pipis di siang hari, Walaupun pipisnya tetap di celana. dan di kamar. Sebelum pipis, Zian sudah emak ajak ke toilet, tapi malah main air. Setelah pasang celana dan Zian sibuk bermain, ternyata sebelum pipis Zian sempat mengatupkan kedua kakinya seperti menahan pipis. Tapi mungkin karena tidak tahan, akhirnya Zian pipis di celana.
Sorenya alhamdulillah Zian kembali bisa pipis. Emak melihat gelagat 'kebelet'nya dan langsung mengajak Zian untuk pipis di tempat cuci piring (untuk selanjutnya emak sebut "tempat pipis Zian ya). Zian pun setuju dan berusaha jalan cepat tanpa penolakan (sebelum-sebelumnya Zian sering melakukan penolakan, jadi ketika dibawa untuk pipis harus digendong paksa dulu). Tapi gregetnya, Zian minta main air. Akhirnya emak marah "PIPIS DULU, BARU MAIN AIR!" Ah, muka polosnya langsung merasa berasa bersalah dan tidak berani main air. Maafkan emak ya nak. Tapi akhirnya Zian berhasil pipis dan emak kasih waktu untuk bermain air buat Zian setelah cebok.
Malam pun begitu. Seperti biasa, malam hari itu adalah momen heboh. Karena di waktu inilah Zian dan Zahra jingkrak-jingkrak di atas kasur. Teriak sana sini riang gembira. Malam ini ketika sudah lelah dan bersiap-siap untuk tidur, Zian emak ajak untuk pipis. Kembali ia pun nurut tanpa penolakan. Ternyata dia sudah pipis duluan di celana sedikit. Tapi kemudian di sambung di tempat pipis Zian.
6 Februari 2019
Alhamdulillah perkembangannya bagus hari ini. Bangun tidur, Zian mau pipis. Setelah mandi, sambil main Zian jongkok dan seperti ngeden pengen pup, jadilah dibawa untuk pup di tempatnya. Alhamdulillah Zian pup.
Siang dan sore, Zian sudah bisa pipis di tempatnya, walaupun masih basah di celana sedikit. Setidaknya emak ga perlu ngepel pipis di mana-mana seperti hari pertama training toilet.
Terima kasih Ya Rabb.
Laa haula wa laa quwwata illa billaah.
Terima kasih nak, sudah mau bekerja sama dan mengurangi sedikit pekerjaan ummi. ^_^
7 Februari 2019
Pagi, emak riweuh. Pengen masak telur dadar untuk anak-anak biar pada semangat makannya. Eh, abinya malah ada kerjaan lain, Zian ditinggal sendirian di kamar dengan Cappucino. Jadinya bagaimana? Zian kalau pagi sebelum mandi, belum pakai ABD (Alat Bantu Dengar). Nah, emak mau matiin air yang sudah mendidih, sekalian tengok Zian. Kaget lihat Zian di kamar sendirian dengan muka bingung. Selesai masak, emak antar nasi dan terlihatlah Zian memberitahukan sesuatu, Dia menunjuk celananya. Emak udah seneng aja nih. Celananya terlihat tidak basah. Langsung saja emak buru-buru buka celananya di tempat pipisnya. TERNYATA ZIAN PUP! Jadilah emak suruh Zian main air dulu setelah emak cebokin. Karena sudah pup, ya sudah dimandiin saja, tapi karena air mandinya belum masak (ceritanya, anak-anak sejak di Ranah Minang selalu mandi dengan air hangat), jadi dibiarkan Zian main air dulu, sementara emak sibuk dengan adiknya.
Setelah mandi pun, Zian kembali pipis banyak di tempat bermainnya. Emak bete. Musti lap-lap lagi. Kok kemaren udah mulai paham, sekarang seperti mulai dari nol lagi? Baru emak ingat, Zian tadi kan minum Cappucino, jadi pipisya lebih banyak dari biasanya.
Pagi ini emak bete. Siang dan sore alhamdulillah kembali normal.
9 Februari 2019
Eh sekarang udah 9 Februari aja ya? Berarti ada 2 hari emak ga laporan di sini. Tapi seingat emak cuma melewatkan 1 hari deh. Ya sudahlah. Seingat emak aja lah ya.
Seingat emak kemaren, Zian udah mulai laporan kalau dia mau pipis dan selalu manut kalau diajak pipis ke toilet setiap 2 jam sekali. Zian sudah bisa buka tutup 'kran pipisnya'. Kalau disuruh pipis, dia lihat ke bawah dan berusaha 'buka kran pipisnya' dan pipislah ia dengan senangnya, karena setiap kali ia berhasil pipis di toilet emak kasih jempol dan kasih pujian.
Alhamdulillah.
Laa haula wa laa quwwata illa billaah.
*Ternyata setelah diingat-ingat tulisan 9 Februari nulisnya di subuh hari, ya iyalah jadi berasa melewatkan 2 hari.
10 Februari 2019
Hari ini agak lucu-lucu riweuh gitu. Alhamdulillah Zian sudah bisa mengabarkan kalau mau pipis. Tapi belum begitu paham kalau 'pup'. Zian sering emak suruh duduk jikalau emak tidak siap jika tiba-tiba Zian pup di tempat yang tidak emak inginkan. Zian kalau duduk, semua aman. Pipis pun ia bisa tahan.
Nah, hari ini Zian pup setelah 1 hari sepertinya dia jadi nahan pup karena disuruh duduk terus. Pulang dari swalayan, Zian selalu ambil posisi jongkok. Emak galau. Tapi akhirnya emak pasrah. Zian udah ga tahan dan akhirnya pup di celana. Emak dan adiknya lagi makan nih ceritanya. Emak teriak minta tolong abinya untuk gendong Zian ke tempat pipisnya. Mungkin karena tiba-tiba Zian digendong, Zian jadi ga nyaman, udahan aja dia pup-nya. Padahal kayaknya belum keluar semua itu.
Siangnya, Zian bolak-balik pengen dibawa ke tempat pipisnya. Emak kira dia kebelet pipis. Tapi yang dipegang pantatnya bukan bagian depan. Ditungguin, ga pipis-pipis. Biasanya kalau disuruh pipis, langsung aja pipis.
Akhirnya dicebokin, pasang celana. Ga berapa lama Zian kembali nunjuk pantatnya. Kembali emak bawa ke belakang. Ga pipis juga. Tapi akhirnya emak sadar, mungkin Zian pengen pup. Tapi ditungguin ga ada yang keluar. Dicebokin lagi dan pasang celana lagi. Setelah celana terpasang, kembali Zian nunjuk pantatnya. Kembalilah kami ke belakang. Dan emak biarkan (ditinggal) Zian jongkok di tempat pipisnya. Dari dalam kamar, sambil main dengan Zahra, emak dengar bunyi "PRRRRRTTTT" dari belakang. Emak penasaran. Emak hampiri Zian, Ternyata Zian sudah pup. Zian sumringah ketika emak menghampirinya, sambil nunjuk pupnya seolah berkata "Zian sudah pup, mi..."
Alhamdulillah...
Emak siram pup-nya.
Karena pup tidak di toilet, jadi ketika menyiram terkena kaki Zian, Zian jijik sambil angkat kakinya.
Emak yakin sebentar lagi Zian sudah bisa pup dan pipis sendiri.
Laa haula wa laa quwwata illa billaah.
Alhamdulillah.
Terima kasih nak, engkau belajar dengan cepat.
12 Februari 2019
Alhamdulillah
Laa haula wa laa quwwata illa billaah.
Terima kasih Ya Allah telah mengajari anak hamba, telah membuat anak hamba paham dengan cepat.
Alhamdulillah subuh tadi, Zian merasa kebelet pipis karena sebelum tidur, dia banyak sekali minumnya. Zian bangunkan emak dengan menepuk-nepuk emak. Setelah emak tanya "apa Zian?" dengan mata masih rada redup, Zian menunjuk celana bagian depannya. Emak langsung on. "Zian mau pipis?" Langsung emak berdiri dan ajak Zian ke belakang.
Pipisnya banyak. hehe..
Dan pagi pun, setelah mandi, Zian merasa tak nyaman, dia pengen pup. Bilang sama emak dengan pegang pantat. Dan pup-lah Zian pada tempatnya.
Alhamdulillah...
Alhamdulillah...
Alhamdulillah...
ALLAHU AKBAR...
Maha Besar Allah yang telah menciptakan otak hingga Zian paham, Maha Besar Allah yang telah menciptakan sistem pencernaan dan sistem ekresi dan segala-galanya.
Subscribe to:
Comments (Atom)